Hari Itu

Satu hari di November 1998

Mungkin karena ini sudah akhir November, atau mungkin kebetulan saja aku sedang memikirkan hari itu. Aku tidak mau lagi menghakimi November adalah pilu. Tapi tentu saja, mengingatnya juga tidak apa-apa.

Aku tidak banyak membicarakan tentang hari itu. Tidak dengan orang-orang terdekatku yang juga merupakan tokoh pada hari itu. Dulu jika ada orang lain bertanya, aku berbohong. Kubilang aku tidak mengingat mengapa hari itu ada. Yang kutahu, seseorang telah tiada. Tapi sekarang aku sudah lebih dewasa meskipun kuceritakan juga hanya ala kadarnya. Aku tidak ingin dikasihani.

Tentang hari itu, aku tidak tahu apakah yang ada di kepalaku itu nyata atau tidak. Ingatan tentangnya baru muncul beberapa tahun terakhir. Dulu aku membenci ingatan itu karena ketika dia muncul seperti layar film di kepala, jantungku terasa seperti dihantam palu gada.

Ini adalah pertama kali aku akan menulis tentang hari itu sedetail mungkin sesuai dengan ingatanku yang juga tidak menyeluruh itu. Aku mungkin hanya punya beberapa cuplikannya, tapi aku ingat betul bagaimana seluruh rasanya. Bahkan aku mengingat rasanya sebelum aku memiliki gambarannya. Perasaan yang menyesakkan yang sering membuatku ingin menghilang.

Namun aku memiliki beberapa dokumen yang nyata, yang menjawab banyak ketidaktahuanku pada hari itu. Ini salah satunya.

Hari itu, Senin, 23 November 1998, Abah, yang masih sangat muda (38 tahun), ditemukan di kebun sudah tidak bernyawa dalam keadaaan luka tusuk di ulu hati.

***

Cuplikan memori 1
Aku lupa bagaimana hari itu dimulai. Tengah hari ketika aku main di halaman rumah temanku, aku melihat Abah dengan cangkul di pundaknya, berjalan. Dia memakai baju merah muda. Aku tahu dia hendak pergi ke kebun. Aku lupa apakah aku menyapa, tersenyum, atau memanggilnya. Aku berharap iya karena itulah terakhir kali aku melihat dia dalam keadaan hidup.

Cuplikan memori 2
Aku tidak tahu bagaimana ceritanya tiba-tiba aku sudah di jalan raya. Mamak menggandeng tanganku sambil tangan satunya membawa satu kantong plastik dedak untuk pakan ayam.

Cuplikan memori 3
Aku sudah berada di dapur bersama Mamak. Dia baru saja menyalakan api di tungku, mungkin untuk memasak makan malam. Aku bermain abu di depan tungku. Tiba-tiba ada dua lelaki datang menyapa Mamak dari pintu dapur yang memang terbuka.
Mamak menghampirinya. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan karena mereka berbisik-bisik. Tapi kemudian seorang lelaki, yang aku kenal itu adalah teman Abah, berkata, “Bapak A jatuh dari pohon kelapa.”
Aku tidak tahu mengapa Mamak menampakkan wajah aneh dan hanya diam. Aku tidak berpikir apa-apa. Teman Abah lalu mengajak kami berdua untuk melihat Abah yang “jatuh dari pohon kelapa”. Dia akan membonceng kami. Mamak lalu mematikan api di tungku.

Cuplikan memori 4
Aku tiba-tiba sudah di atas sepeda motor menuju rumah di dekat kebun di mana Abah berada. Aku ingat aku memiliki perasaan aneh tapi aku tidak bisa mendeskripsikan apa perasaan itu. Di tengah perjalanan, aku melihat kakakku dan temanku. Mereka berdada-dada dan tersenyum melihatku.

Cuplikan memori 5
Aku berada di ambang pintu. Orang-orang memandangiku aneh. Di rumah itu ramai sekali. Aku mendengar Mamak banyak beristighfar dan menyebut nama Tuhan. Aku berjalan masuk. Aku melihat abah terbaring di kursi panjang. Tertidur, pikirku dulu. Wajahnya biru tapi aku belum tahu apa arti wajah biru. Aku melihat banyak merah hampir di sekujur dadanya. Kontras dengan bajunya yang berwarna merah muda. “Oh, mungkin ada luka di sana jadi orang-orang menaruh banyak obat merah,” pikirku lagi.

Cuplikan memori 6
Aku tiba-tiba sudah di atas sepeda motor lagi bersama Mamak dan juga teman Abah. Kami hendak pulang ke rumah. Ada perasaan ganjil ketika aku di atas motor. Sangat ganjil tapi aku tidak bisa mendeskripsikan itu apa. Mamak sejak di dapur tadi tidak berkata sepatah kata pun padaku. Dia hanya merapal nama Tuhan. Aku ingat aku hampir menangis, tapi aku tidak tahu mengapa aku ingin menangis.

Cuplikan memori 7
Tiba kembali di rumah. Di sana sudah banyak orang, ramai sekali. Aku sangat bingung ketika itu apa yang terjadi. Orang-orang menatap nanar ke arahku. Aku melihat kakakku menangis, tapi aku tidak tahu mengapa. Aku merasa aneh dan takut sekaligus karena beberapa orang berusaha memegangku dan bahkan menggendongku. Lalu ketika aku mendengar “laila ha ilallah” dan bapakku yang digotong beberapa orang, tangisku pecah. Aku tidak tahu seberapa lama aku menangis karena gambar yang kuingat selanjutnya adalah aku makan mi instan.

Cuplikan memori 8
Aku menunggui di depan tenda Abah dimandikan. Aku dipangku Mamak. Aku ingin menangis lagi, tapi aku tahan. Ketika itu sudah malam dan tiba-tiba aku ada di ruang tamu, duduk. Menatap ke arah tubuh Abah yang dibungkus kain putih, di atas meja.

Cuplikan memori 9
Pagi harinya, aku berjalan bersama rombongan pembawa jenazah Abah. Saat itu aku sudah cukup tahu ke mana tujuannya. Aku menginjak rumput yang basah dan tanah merah yang sangat licin. Sandalku terlepas. Lalu seseorang menggendongku di punggungnya.

Cuplikan memori 10
Aku melihat tubuh Abah diturunkan ke liang lahat. Aku mencoba melihatnya sedekat yang kubisa, paling depan, dan mendongak ingin tahu. Aku bisa melihat wajah Abah lagi ketika orang-orang membuka tali pocongnya. Sangat biru, lebih biru dari yang kulihat kemarin.

Demikian cuplikan-cuplikan memori hari itu. Hari setelahnya, aku lupa-lupa ingat. Yang aku ingat, rumah masih ramai. Aku melanjutkan hari-hariku seperti biasa. Aku bermain saja bersama teman-temanku. Aku tidak merasa sedih atau bagaimana setelah itu. Aku tahu Abah meninggal karena jatuh dari pohon kelapa. Aku melanjutkan hidup sebagaimana anak-anak pada umumnya. Barulah beberapa tahun kemudian, setelah aku lebih besar, aku tahu bahwa Abah meninggal dibunuh orang. Orang-orang banyak membicarakan itu. Tapi Mamak, tidak pernah sedikitpun membahas apa yang terjadi dengan Abah.

Ada ribuan hari terjalani setelah hari itu. Ada banyak perasaan yang menyeruak karena hari itu ada. Ada banyak hari ketika aku ingin ikut bersama Abah ditanam di dalam tanah.

Hari itu, hari yang tidak mudah. Menjalani hari setelahnya, apalagi. Tapi waktu membuktikan kekuatanku. Semesta menyembuhkanku dari luka hari itu meskipun tidak seluruh. Besok adalah tepat 27 tahun kejadian hari itu. Aku dulu mengingatnya penuh duka. Sekarang aku mengingatnya sebagai duka.

Kata orang, duka kematian tidak akan pernah sembuh. Kita hanya terbiasa hidup bersamanya. Dan demikian yang juga kurasa, 27 tahun lamanya.



2 responses to “Hari Itu”

  1. Semoga semakin dikuatkan dan mendapatkan penguatan ya dalam proses berduka ini. Turut berduka cita dengan kejadian 27 tahun lalu.

    Salam kenal – Deny.

    Like

    1. Terima kasih supportnya Ibu Deny. Salam kenal. Semoga sehat selalu :)

      Like

Leave a reply to denaldd Cancel reply