Liburan Hampir Usai

7 Januari 2025

Ini adalah minggu ketigaku di rumah. Minggu keempatku, aku mungkin sudah kembali ke Bali.

Mungkin dari sekian banyak liburanku sejak aku menetap di Bali, ini yang paling berkesan. Aku tidur sangat baik (hanya sekali begadang sampai pagi), menjalani rutinitasku yang lain dengan sangat baik pula. Aku membeli sepeda sebagai hadiah ulang tahun dan aku memakainya hampir setiap hari. Paling sering aku pergi ke rumah kakakku yang jaraknya sekitar 4 km. Aku menyukainya. Beberapa kali aku juga pergi ke kota. Aku paling menyukainya. Meskipun jauh dan membutuhkan kurang lebih dua jam perjalanan pergi pulang, tapi aku suka sekali. Sambil mendengarkan lagu dan bernyanyi-nyanyi.

Aku juga sangat rutin meminum obat-obatku. Kestabilanku berada di titik terbaik sepanjang hidup aku dalam perawatan. Aku juga suka ini.

Demikian baiknya liburanku kali ini membuatku mencari-cari masalah sendiri. Memikirkan kematian dan menginginkan kematian (lagi). Aku tidak tahu. Selalu ada saja waktu-waktu di mana aku tidak membumi pada realita. Mungkin pikiranku telah candu dengan hal-hal yang menyakitkan. Tidak bisa sejenak saja hidup tenang, selalu mencari pikiran yang nantinya berakhir dengan tangisan.

Hal yang paling kutakutkan adalah aku kehilangan tempat pulang setelah diriku. Keluargaku adalah rumah kedua yang mana salah satu “segalanya” yang kupunya. Setiap waktu liburan datang dan aku pulang, aku melihat kedua orang tauku semakin menua. Bapake yang mencukur habis rambutnya karena sudah dilanda kebotakan akut, mamake yang juga hampir seluruh rambutnya memutih. Aku tidak tahu lagi berapa lama bisa menghabiskan waktu dengan mereka. Menulis ini, membuatku menangis lagi. Aku tidak terlalu dekat dengan kakakku tapi ada ikatan yang tidak bisa aku jelaskan yang intinya kami saling menyayangi. Adikku yang beranjak dewasa dan memiliki dunianya sendiri. Aku masih dikelilingi oleh mereka saat ini, detik ini. Tapi pikiranku mudah sekali mengaburkan realita, mengawang ke masa depan di mana aku menjadi seorang diri, tanpa mereka. Itu sangat menakutkan.

Sering aku berpikir, akan lebih mudah jika aku tidak berumur panjang. Jadi aku tidak perlu mengalami kehilangan.

Liburan hampir usai. Aku bersyukur atas segala waktu dan kebaikan yang terjadi di liburan kali ini.

Aku juga bertemu Ayam.



One response to “Liburan Hampir Usai”

  1. […] kontradiktif dengan catatan tahun lalu “Liburan Hampir Usai” yang mana aku berjalan beriring bersama alur semesta, kali ini aku sadari aku memberhentikan […]

    Like

Leave a reply to Menggenggam Bahagia – Relung Cancel reply