Di ruang terapi
“Selayaknya sebuah pohon. Dulu batangnya hampir tumbang. Rantingnya rapuh dan daun-daunnya layu berguguran. Apakah masalahnya hanya di batang pohon itu saja? Ada akarnya.
“Bagaimana dia tumbuh ke bawah menjalar, di sana masalah utamanya. Sekarang pohon itu mulai hijau, batangnya bisa berdiri tegak lagi, seperti Dira. Tapi kemudian ada satu dua hal yang membuat pohon itu goyah lagi, bisa jadi dari banyak hal. Kenapa bisa goyah lagi? Karena pengakarannya belum sepenuhnya pulih.
“Selama ini yang Dira lakukan dan kerjakan, adalah mengusahakan pohon itu kembali tegar berdiri. Namun, mengobati batangnya saja tidak cukup. Kita perlu untuk merawat akarnya juga. Itulah kenapa kita tidak hanya selesai pada batas mengobati gejalanya. Kita perlu pelan-pelan menguatkan akar-akar pohon itu.”
Air mataku berjatuhan ketika Sastradi menjelaskan perumpamaan seperti itu. Aku seolah melihat ke dalam diri dan bertanya sendiri di pikiranku, “Sayang, seberapa dalam kamu terluka? Bagaimana aku bisa membantumu?”
Aku kembali ke apa yang ada di hadapannya saat itu ketika Sastradi berhenti bicara.
“Meskipun saya tidak tahu apa yang membuat batang pohon itu goyah lagi?” tanyaku.
“Benar sekali. Dan seperti yang sudah saya katakan berulang kali. Mencari ‘mengapa’, sibuk dengan diagnosa, hanya memenuhi ego sesaat saja. Tidak akan banyak membantu.”
“Saya melihat video animasi bagaimana antibodi bekerja ketika benda asing datang ke dalam tubuh. Saya melihat penggambaran bagimana darah sibuk bekerja ketika di kulit terdapat goresan luka. Mengapa otak saya tidak bisa seperti itu? Melindungi, menyembuhkan diri sendiri. Bukankah itu bagian yang paling penting? Tapi mengapa isi kepala saya seolah ingin menyakiti diri saya sendiri?”
Sastradi tersenyum, “Karena memang bukan sesuatu yang bisa dibandingkan. Apa yang ada di dalam kepala itu sangat halus, sangat dalam. Dira tidak hanya terluka dengan apa yang Dira alami saat ini. Seperti akar pohon tadi. Tumbuh bercabang di luar kesadaran kita. Apa yang terjadi di masa lalu tidak bisa kita ubah. Tapi apa yang terjadi saat ini, bisa kita perbaiki. Kita merawat batang pohon, ranting, dan daun supaya tetap teguh, kuat, dan hijau. Sembari memastikan bahwa akar-akarnya melalukan cara terbaik untuk dalam mengarungi apa yang ada di dalam tanah.
Kami mengakhiri dialog kami dengan percakapan basa-basi dan mengatur pertemuan minggu depan. Di sela-sela itu, aku bertanya juga padanya apakah dia bosan denganku. Sastradi tidak menjawab dengan ya atau tidak. Dijawabnya, “Ini profesi saya, yang memang perlu banyak mendengarkan dan berdialog dengan orang-orang seperti Dira ini.”
Dan aku suka jawaban itu. Fair, tidak sugar coating.
Notes: aku menamai diriku sendiri “Dira” dari kata /dear/=/sayang/. Karena demikian aku memanggil diriku sendiri, “sayang” :)

Leave a comment