Aku mengingatmu banyak ketika tantrum. Aku hanya kecapekan membuat brownis yang dan japchae (bihun goreng Korea) yang fenomenal. Kakiku terasa panas karena sepanjang sore berdiri di dapur. Tapi otakku lebih panas karena aku mengingatmu.
Dan ketika mengingatmu, aku sadar bahwa ternyata aku telah banyak lupa tentangmu.
Aku ingat entang L, tentang I, tapi aku lupa siapa nama perempuan yang minta dicubit-cubit di atas kereta malam. Aku ingat tentang W, D, tapi aku lupa siapa nama perempuan yang modus memesan tas rajutan buatan ibumu. Aku sudah lupa nama teman kerjamu yang gay, nama guru sejarah yang bisa menerawang, nama guru bahasa Inggris yang haus validasi. Aku sudah lupa.
Rasanya aku sudah tidak bisa mengabsen lagi nama-nama perempuan yang kau kerjai perasaannya. Aku sudah banyak lupa. Dan aku menangis karena aku lupa.
Tapi aku masih ingat U dan nama anaknya. Aku masih ingat bahwa kedua mantanmu memiliki anak perempuan dengan nama yang sama.
Aku sudah lupa bagaimana kamu putus dengan Da. Oh Da, gadis yang malang, yang segenap hati memberikan jiwa raganya kepada Lucifer tapi tetap kamu campakkan. Sepertinya apa dia katakan benar. Bahwa tidak ada yang bisa mencintaimu setulus, seikhlas, dan serela Da. Da gadis yang paling rela.
Aku seperti merindukan dia dalam beberapa hal. Dia hidup dalam kehidupanku dari cerita-ceritamu. Apakah dia masih gila? Aku masih. Aku gila lagi.
Dan di antara lupa-lupa itu, aku telah berhenti untuk ingin tahu tentang hidupmu saat ini. Aku pikir saat ini kita telah cukup baik menjalani kehidupan kita masing-masing. Musim tidak mesti berkait selamanya kan? Aku hanya merindukan bagaimana kita berbagi di masa lalu. Yang menyedihkan adalah segala itu tiba-tiba memudar perlahan. Aku tidak ingat sejak kapan aku lupa. Air mataku tidak bisa berhenti karena aku gagal untuk mengingat semuanya. Aku ingin mengingat segala hal yang kau ceritakan padaku.
Lucu ya? Ketika banyak orang ingin melupakan sesuatu, aku malah merasa sedih karena aku melupakan itu. Bahkan suaramu di dalam memori dengarku juga semakin mengabur meskipun 7 Januari lalu kita berbincang di telepon selama delapan menit.
Atau mungkin kamu yang melupakanku? Dan yang terjadi padaku hanyalah refleksi apa yang terjadi di dalam dirimu. Tapi itu tidak mungkin karena kamu punya otak yang waras dan cemerlang. Hanya hatimu saja yang ripuh seperti air di daun talas. Aku tidak masalah jika dilupakan. Aku hanya satu makhluk hidup di antara 8 milyar lainnya di satu tempat antah berantah bernama bumi yang mana hanya butiran debu di alam semesta yang tak terbatas ini. Tapi sungguh aku ingin mengingat tentangmu, mengingat semua hal yang dulu begitu fasih aku pidatokan untuk mengolok-olokmu.
Semoga di dimensi semesta yang lain, kamu sedang menceritakan padaku hal-hal yang tidak sengaja aku lupakan itu. Di semesta yang lain, aku mengingatmu seluruh.

Leave a reply to Voucher Belanja – Relung Cancel reply