Relung

๐Ÿ‚ sejak 2018 ๐Ÿ‚


renungan

  • Menggenggam Bahagia

    “Shall we look at the moon, my little loon?Why do you cry?Make the most of your life, while it is rifeWhile it is lightWell, you do enough talkMy little hawk, why do you cry?Tell me, what did you learn from the Tillamook burn?Or the Fourth of July?We’re all gonna die” Lirik lagu yang membawaku pada Continue reading

  • Sembuh sendiri

    Ada banyak cara untuk menyembuhkan luka di dalam diri kita. Setiap orang tentu berbeda-beda. Apapun itu, adalah perjalanan yang unik milik masing-masing. Bagiku, sembuh sendiri adalah jalanku. Mengapa sendiri? Aku hanya membayangkan jika dalam setiap piluku disembuhkan dengan seseorang. Maka jika seseorang itu pergi, aku akan merasa pilu lagi. Tapi dengan sembuh sendiri, dengan atau Continue reading

  • Teman Terbaik 2

    Seperti yang telah aku tuliskan di Teman Terbaik sebelumnya, setiap teman memiliki musim dan porsinya masing-masing. Itulah mengapa semua mereka berharga karena mereka menjadi bagian diriku di satu titik tertentu. Jika aku menulis ini ketika aku masih SMA, tentu aku akan menulis tentang Elia. Jika aku menulis ini ketika aku di perkuliahan, Sabrina akan jadi Continue reading

  • Teman Terbaik

    Aku memiliki beberapa circle pertemanan. Semua sangat menyenangkan karena mereka berfungsi sesuai porsinya masing-masing. Yang paling dekat denganku, karena porsi bicara kami juga paling banyak, Hendra. Tapi kami long distance, ada banyak hal keseharianku yang menarik yang tidak bersinggungan dengannya. Namun, itu tidak mengurangi kebermaknaannya. Jika ditanya lebih dalam lagi siapa teman terbaikku, jawabannya adalah Continue reading

  • Alunan Musik

    Aku baru saja melakukan terapi malam ini. Perbincangan dengan Sastradi di sesi tadi cukup lama. Aku menanyakan satu pertanyaan yang membutuhkan jawaban kompleks tapi Sastradi selalu bisa menjawabnya dengan sederhana. “Apa yang terjadi di kepalaku, hingga aku belum bisa kembali berfungsi tanpa obat-obatan?” Pada mulanya dia menjwabdengan pertanyaan yang sudah sering dia berikan, “Ada yang Continue reading

  • Hari Itu

    Hari Itu

    Satu hari di November 1998 Mungkin karena ini sudah akhir November, atau mungkin kebetulan saja aku sedang memikirkan hari itu. Aku tidak mau lagi menghakimi November adalah pilu. Tapi tentu saja, mengingatnya juga tidak apa-apa. Aku tidak banyak membicarakan tentang hari itu. Tidak dengan orang-orang terdekatku yang juga merupakan tokoh pada hari itu. Dulu jika Continue reading

  • Memorial Hotel

    Memorial Hotel

    11 Oktober 2025 “Ini sudah pekan ke-3. Max belum menghubungiku. Aku tidak memikirkannya terlalu banyak. Tapi mungkin memang aku tidak pantas untuk didekati, untuk dicintai.”Kata diriku, pasti, jika aku masih seperti aku yang 28 tahun. Tapi aku sekarang adalah aku yang berusia 32 tahun. Mungkin waktuku dan Max hanya enam hari saja. Tapi dari Max Continue reading