Relung

๐Ÿ‚ sejak 2018 ๐Ÿ‚


It flows

  • His name is Maximilian

    27 September 2025 His name is Maximilian. I asked him for full name but I do not know how to spell Germans so I can’t Google it. I know nothing more about him. Just Maximilian. But I know he’s a gentle soul. I know how I feel peace surround him. I know my heart is Continue reading

  • Aku, dalam Bait Sendunya

    Aku adalah puisi sendu dari seseorang yang memaknaiku dalamAku tersentuhTapi takdir kita sangat jelas dan sederhana: bukan untuk bersama Aku bertanya-tanya, apakah dalam dirinya masih ada luka?Dia menyiratkan rindu dalam sebuah canda yang getirKami saling bicara seperti di pinggir danau kenanganHanya melihatnya, tanpa harus basah berenang lagiTapi nyatanya aku masih melihatnya kuyup dari musim masa Continue reading

  • A vision

    A vision

    1 April 2025 I have a visionWe watch the clear night sky togetherIn the garden or the beach or whateverSomewhere beautiful and peaceLying down, holding hands, and talking sweetsNot sure who you areBut the image I capture in my headAll clear like a heavenly river Continue reading

  • Telah Usang

    23 Maret 2025 Aku melihat kekosonganmu, aku seolah bisa merasa hampamu. Pesan-pesan tersiratmu seringkali kubaca ulang. Doa tulusmu kuhayati hingga tuntas. Aku berterima kasih. Aku juga mendoakanmu. Aku tidak pernah menyangka sedalam itu perasaan yang kau pendam. Tapi kisah kita telah usang. Rasanya akan mudah untuk memulai kembali karena mencintaimu dulu juga bukanlah hal yang Continue reading

  • Rasa Rendah Diri

    2 Februari 2025 “Ini aku, … . Kamu apa kabar? Kamu masih tinggal di …? Aku kangen.” Sebuah pesan tengah malam yang membuatku seketika menangis tersedu-sedu. Bukan dari seseorang yang begitu penting karena aku hanya mengenalnya beberapa bulan. Tapi apa yang dia lakukan, memberiku pembelajaran mendalam. Kadang kita belajar dari seseorang dengan damai dan bahagia, Continue reading

  • Memori Ogogili

    3 Mei 2024 Rindu malam di OgogiliKetika pikiran terbang melayang merindu tanah ibuDalam tengah malam yang berisi ombak mendesirPanas udaranya aku tidak tahanMembuat kulitku lengket dan ketiakku bauTapi aku suka bintang-bintangnyaSungguh terang Rindu berjalan sepuluh langkah menyentuh pantaiDan sepanjang jalanan yang bahu jalannya terendam ombakSepanjang jalan ada balai-balai tempat bergantung ikan segarMurah saja, dua puluh, Continue reading

  • Ayam

    Pagi hari dimulai dengan alarm berulang yang cenderung tidak mempan. Karena pada akhirnya, aku bangun pukul 07.00 dan itu bagiku sudah cukup kesiangan. Idealnya aku beranjak 06.30 atau paling telat 06.45, tapi kali ini mataku benar-benar enggan terbuka. Aku juga tidak tahu mengapa. Malam sebelumnya aku terbiasa menyiapkan bajuku, tidak tadi malam. Akhirnya aku kebingungan Continue reading