Itu bukan kemarin

Itu bukan kemarin ketika dini hari seperti ini aku mendengar suara sutil beradu dengan wajan. Setelah semua selesai, Mamake lalu membangunkan semua orang untuk menyantap sahur bersama-sama. Itu bukan kemarin ketika adikku menangis di meja makan karena mood-nya jelek harus bangun makan di hari masih gelap. Kadang kala Mamake ke kamarnya menyuapi. Lalu sekarang, setahuku dia tidak pernah makan sahur lagi.

Itu bukan kemarin ketika kami belum memiliki televisi, radio adalah salah satu alat yang bisa kami andalkan untuk menangkap suara penanda waktu berbuka. Itu bukan kemarin ketika kami sudah memiliki televisi dan aku membantu membawa segala hidangan buka puasa ke ruang televisi. Kami menyantap berbagai macam makanan di sana. Usai makan, kami lalu salat maghrib berjamaah. Itu bukan kemarin kemudian aku bersemangat untuk segera pergi tarawih ke masjid. Membawa uang lima ratus atau seribu rupiah untuk membeli jajan.

Itu bukan kemarin. Itu ribuan hari yang lalu. Rasanya bahkan seperti di dunia yang lain.

Di rumah di mana segala kejadian itu terjadi, sekarang kebanyakan hanya dihuni oleh dua orang tua: seorang kakek dan seorang nenek. Mereka tentu saja masih melakukan ritual-ritual sahur dan berbuka puasa tanpa anak-anaknya yang sudah berkeluarga dan merantau. Aku ingin tahu apa yang ada di pikiran kakek nenek itu. Apakah mereka juga bernostalgia seperti aku. Apakah mereka merasa kesepian.

Aku ingin mengulang adegan bulan Ramadan seperti itu lagi, tapi rasanya cukup sulit. Berkumpul bersama tentu bisa. Tapi ini bukan lagi awal tahun 2000-an. Adikku enggan makan di dapur bersama yang lainnya. Kami sudah tidak lagi berbuka di depan televisi. Lalu kakakku, pasti akan sangat rempong berbuka bersama dua anaknya yang masih kecil-kecil. Aku bersyukur orang-orang di masa lalu masih utuh hingga sekarang dan bahkan bertambah. Masa lalu yang indah memang mengesankan, demikian memang tugasnya. Sebagaimana pun hendak mereka-adegan atau mengulanginya lagi, kupikir tidak akan pernah bisa.

Tapi jika aku punya kekuatan super, aku ingin kembali ke sana seperti hantu. Aku ingin melihat lagi kesibukan-kesibukan di tahun-tahun itu ketika bulan puasa. Aku ingin mengambil gambar yang banyak dan menyimpannya dalam proyek scrapbook-ku.

Itu bukan kemarin dan sepertinya aku telah banyak melupakannya.



Leave a comment