Menggenggam Bahagia

“Shall we look at the moon, my little loon?
Why do you cry?
Make the most of your life, while it is rife
While it is light
Well, you do enough talk
My little hawk, why do you cry?
Tell me, what did you learn from the Tillamook burn?
Or the Fourth of July?
We’re all gonna die”

Lirik lagu yang membawaku pada pikiran pilu. Sedikit karena kata-katanya, tapi kebanyakan karena melodinya. Pikiranku mengawang pada betapa indah hidup yang kujalani sekarang. Keindahan yang semestinya membuatku bahagia, namun malah menjelma sendu. Alasannya sederhana: aku ingin menggenggamnya.

Aku ingin waktu ini terhenti di sini. Di mana aku memiliki kestabilan hidup dari segala sisi. Diriku – fisik dan mental, karir dan finansialku, keluarga dan orang-orang di sekelilingku. Semua terasa sempurna dan aku tidak ingin melepasnya. Aku tidak ingin orang tuaku bertambah tua dan tetap sehat sebagaimana mereka sekarang, aku ingin hubungan kakak-adik yang selalu hangat, aku ingin keponakan-keponakanku tetap selucu seperti sekarang ini. Dan banyak hal lain yang kuinginkan untuk tetap seperti ini. Aku berpegang erat, berpegang pada perasaan “bahagia” yang kupunya sekarang. Detik ini, aku sedang tidak membiarkan waktu dan momen mengalir. Aku sedang melawan fitrah semesta. Demikianlah bagaimana sendu dan pilu itu bermula.

Sangat kontradiktif dengan catatan tahun lalu “Liburan Hampir Usai” yang mana aku berjalan beriring bersama alur semesta, kali ini aku sadari aku memberhentikan diriku sendiri, menghendaki perasaan bahagia itu untuk abadi. Aku seolah lupa pada pelajaranku, yang sebenarnya aku sudah sangat kuasai juga di banyak waktu sebelumnya, bahwa tidak ada perasaan yang abadi. Suka duka sudah semestinya hadir silih berganti. Tidak hanya tentang suka duka, namun segala apapun itu nama perasaannya.

Aku merasa takut seolah semesta hanya akan memberiku rasa sedih di kemudian hari. Aku merasa takut jika ini semua usai, seolah tidak ada lagi bahagia yang kupunya. Aku merasa terbatas sementara dalam kesadaranku yang penuh, semesta memiliki berkat yang tidak terbatas untukku. Aku seperti sedang menolak seni hidup yang berupa lukisan garis naik turun dan berisi jutaan warna yang bermakna.

Tapi aku tidak menolak sendu ini, aku tidak menolak takut ini. Aku mengizinkan mereka hadir. Dan bahwa aku menerimanya, adalah tanda aku sedang mengalir dalam arus semesta yang semestinya.

Tuhan, berilah sebagaimana kau ingin memberi. Ambil-lah jika memang waktunya pergi karena sejatinya apa yang kau beri juga bukan kepunyaanku. Dan dalam proses menjalaninya, aku percaya kelembutan kasih-Mu selalu meliputi, kemudahan senantiasa membersamai. Terima kasih untuk segala perasaan yang bisa kurasa karena aku memang manusia biasa. Terima kasih untuk segala carut-marut di kepala yang membuatku berefleksi dan belajar lagi. Terima kasih untuk segalanya, untuk indah hidupku yang sempurna sebagaimana adanya.



Leave a comment