Menjadi orang tua tidak mudah, demikian kata orang-orang. Aku tidak benar-benar bisa memahami karena aku belum memiliki anak. Tapi aku bisa mengerti tentang riuhnya.
Baru-baru ini kakakku mengalami kecelakaan. Tidak ada luka serius namun membuat mobolitasnya terganggu. Mau tidak mau, dia mengungsi ke rumah ibu. Kupikir ini kali pertama kali aku mengalami rumah dihuni dua balita sekaligus dalam waktu cukup lama karena kebetulan aku sedang liburan di rumah orang tua. Sebelumnya ketika covid aku pernah tinggal bersama dengan keponakanku. Namun ketika itu dia masih newborn jadi belum banyak tingkahnya.
Keponakan-keponakanku bukan anak yang bandel. Mereka berusia lima dan dua tahun. Anak-anak yang pintar dan manis. Namun, balita tetaplah balita. Mereka bertingkah seperti balita pada umumnya dan tidak ada yang salah dengan itu. Aku juga tidak membenci rumah yang ramai. Aku bahkan menyukainya. Namun, ada waktu-waktu aku merindukan rumah yang sunyi sepi.
Mungkin kondisinya akan lebih mudah jika aku memiliki jam tidur yang sama dengan mereka. Pukul sembilan maksimal sudah terlelap. Si bungsu bahkan tidur pukul tujuh. Lalu mereka bangun pagi. Akan sangat menyenangkan jika aku memiliki ritme itu. Di pagi dan siangnya aku bisa bermain dengan mereka. Namun jam tidurku tidak sebagus itu. Sudah menjadi satu kebiasaan jika musim liburan aku tidur lebih dari pukul satu dini hari dan bahkan bisa sampai pukul tiga atau empat. Lalu aku juga termasuk light sleeper. Rasanya kurang nyaman ketika aku tidur pukul tiga dan terbangun pukul enam atau bahkan lima. Tapi satu hal yang aku syukuri adalah balita-balita itu bukan anakku. Aku tetap bisa berbaring di kamar meskipun aku terjaga. Tentu saja aku tidak punya tenaga untuk mengurusi segala keperluan rumah dan keperluan keponakanku di pagi hari. Di sana aku merasa bersalah. Jika saja aku memiliki ritme tidur yang baik, rasanya aku ingin membantu kesibukan di pagi hari karena memang cukup riuh, namun aku seperti tidak berdaya. Lalu ketika hari mulai siang dan aku masih mengumpulkan nyawa, beberapa kali keponakanku menghampiri. Mereka tidak membangunkanku tapi dari dalam diriku sendiri aku ingin bermain bersama mereka. Tapi sekali lagi, aku merasa tidak punya cukup tenaga. Barulah nanti menuju sore ketika aku sudah mulai merasa bugar, aku bermain bersama mereka.
Terlepas dari segala keriuhan rumah dan kerinduanku akan sunyi, aku tetap menyukai keponakan-keponakanku tinggal bersamaku. Aku sangat menghargai waktu dan kebersamaan karena aku juga tinggal berjauhan dengan mereka dan minimal dua atau tiga bulan sekali aku baru bisa pulang ke kampung halaman bertemu dengan keluargaku. Dan karena mereka tidak tinggal serumah denganku, aku mungkin bertemu mereka beberapa hari sekali dan itu pun mungkin hanya beberapa jam. Sekarang aku diberi waktu dua minggu lebih dalam satu rumah tentu itu adalah berkah dari semesta. Mereka tidak akan pernah sekecil dan selucu itu lagi di masa depan. Masalah aku ingin sepi dan sunyi bukanlah hal yang besar karena aku juga tidak pernah dibebani untuk mengurusi keperluan bocil-bocil itu. Aku tidak pernah memandikan atau menyuapinya makan. Kebersamaanku dengan mereka adalah hanya main-main dan itu menyenangkan.
Dan ketika aku perlu me time untuk menulis atau sekadar menikmati waktuku yang benar-benar sendiri, aku tinggal mengayuh sepedaku ke kota dan ke kedai kopi. Menikmati segelas es kopi sambil menulis segala apa yang ada di pikiranku. Dalam hidupku akhir-akhir ini, tidak ada kesulitan yang terlalu sulit. Tuhan memberi kemudahan tak terhingga untuk segalanya.
Tuhan, terima kasih atas liburan yang riuh dan ramai ini. Terima kasih juga atas kebebasanku untuk bisa menepi dari keriuhan itu sejenak ketika aku menginginkannya.

Leave a comment