Tahun 2023 aku pernah mengikuti tamasya beramai-ramai bersama rekan kerja. Menyenangkan dan juga menjadi penanda aku mulai membuka diri. Aku ketika itu mendaki Gunung Ijen dan menyusuri Alas Purwo. Ada juga beberapa tempat lainnya namun setidaknya dua itu lah yang paling berkesan.
Tahun ini, entah bagaimana ceritanya aku mengiyakan ajakan bertamasya bersama lagi. Sebenarnya bukan karakterku untuk mengunjungi tempat yang pernah (apalagi sering) kukunjungi sebelumnya. Jogja. Lusinan kali tak terhitung aku menyusuri kota satu itu. Kota yang malah lebih akrab di memoriku daripada Semarang, tempatku tinggal selama lima tahun. Aku tidak pernah mengira aku akan punya Jogja versi ramai bersama teman-teman karena sebelumnya versi Jogjaku romantis dan juga ada rasa pilu. Tapi Niluh, Liana, dan Kennichi memberi versi Jogja yang seru dan penuh tawa.

Jika aku tamasya sendiri, tujuan utamaku pasti melihat sudut-sudut wisata alam dari tempat yang aku datangi. Ini kali pertama aku dibawa ke landmark populer dan juga wisata kuliner. Sebuah pengalaman yang baru yang mungkin jika aku sendiri tidak akan melakukannya jika aku bepergian hanya dengan diriku. dan aku bisa menikmati semuanya. Barangkali karena orang-orang di sekelilingku yang memang menyenangkan.
Kami memulai perjalanan dari Bali menggunakan bus. Tepat sekali beberapa waktu lalu aku sering meracau ingin pulang kampung dengan bus namun banyak ragu. Lalu kemudian diberilah aku naik bus. Kupikir aku akan kesulitan tidur di atas bus tapi nyatanya tidak. Ada terrbangun sedikit-sedikit tapi secara keseluruhan aku tidur dengan baik untuk hitungan di atas kendaraan. Tiba di Jogja pukul 5.30 lalu kami singgah di rumah nenek Kennichi.
Kami lalu sarapan bubur ayam, bersih-bersih, dan istirahat sejenak. Kennichi akan tinggal di rumah neneknya selama 3 hari ke depan sementara aku, Niluh, dan Liana akan menginap di hotel. Sekitar pukul sembilaan, motor sewaan kami tiba. Kami lalu ke Taman Sari. Kupikir tidak ada view yang spesial dari tempat pertama kami, tapi aku menyukai foro-fotoku di sana. Selesai berkeliling di tempat itu, kami makan di Gudeg Sagan. Rasanya lumayan. Tidak jauh dari gudeg-gudeg yang dibelikan mantan kekasihku untuk sarapan.
Kami kemudian pindah ke hotel dan istirahat lagi. Pukul empat kami memutuskan ke Embung Nglanggeran, yang mana juga tempatku berkencan dulu bersama mantan kekasihku di tahun 2014. Akses ke sana sudah cukup baik daripada dulu. Pas sekali ketika itu matahari terbenam jadi pemandangannya juga menakjubkan. Teman-temanku sangat senang aku merekomendasikan tempat itu. Pulangnya, kami singgah di Pictnik. Pemandangan citylight-nya benar-benar luar biasa. Aku memiliki pemandangan itu dulu bersama Y dan Ayam. Hari pertama di Jogja, aku bernafas penuh nostalgia.
Hari kedua kami ke Solo, mengunjungi Pura Mangkunegaran dan Kampung Batik Kauman. Aku kurang bisa menikmati tempat-tempat itu tapi aku menikmati waktu bersama teman-temanku.
Hari ketiga adalah hari yang paling seru karena kami ke Jeep Tour di Kaliurang. Tempat-tempat yang dikunjungi sebenarnya biasa saja tapi medan yang dilewati jeep-nya sangat memacu adrenalin. Aku tidak ada berhenti tertawa ketika badanku terguncang-guncang. Pemandangan dan cuacanya juga cukup bagus. Pulangnya kami mampir ke Candi Plaosan dan juga Obelix yang zonk. Tapi tidak apa-apa, aku tetap menyukainya. Sepanjang perjalanan pulang aku juga berkaraoke ria bersama Liana. Aku belakangan banyak menunjukan sisi ramai dan reog-ku ketika bersama orang lain dan aku menyukai itu.
Niluh dan Liana masih melanjutkan tamasya ke Kebumen. Tidak Kennichi, dia pulang ke Jakarta. Aku membawa tamu-tamuku ke Dieng dengan sisa-sisa tenaga kami. Tapi kupikir mereka juga menikmatinya karena Dieng memang seindah itu.
Yang paling kusukai dari tamasya ini adalah aku tidak perlu banyak berpikir. Segala akomodasi dan konsumsi, mereka sudah mengaturnya. Aku tinggal setor rupiah saja dan semua beres. Aku bahkan tidak tahu bus berangkat jam berapa, teknis menyewa motor dan mobil, atau tiket masuk wisata. Sangat kontras jika aku tamasya sendiri, aku memutar otakku dengan keras untuk semuanya. Aku juga masih bisa mendapatkan waktu untuk diriku sendiri karena rekan-rekanku cukup banyak energi untuk lanjut berkeliling di malam hari. Sementara aku memilih tinggal di hotel saja.
Aku bersyukur memiliki waktu tamasya bersama mereka. Aku juga bersyukur memiliki koneksi yang baik dengan orang-orang yang mengadopsiku menjadi teman mereka.


Leave a comment