Belajar dari Hubungan

Terima kasih kepada jiwa yang rela berperan sebagai antagonis dalam hidupku sehingga aku belajar.

Pertama-tama, aku menulis ini bukan untuk meluapkan benci. Aku menjadikan ini bahan berefleksi untuk diriku sendiri. Aku marah, aku sedih ketika itu terjadi tapi itu adalah masa lalu. Dan aku tidak membawa perasaan-perasaan masa lalu itu di masa sekarang.

Pernah dalam sebuah hubungan yang mengekang tapi aku percaya bahwa itu cinta. Aku mengira itu adalah rumah tapi ternyata adalah penjara. Aku tidak bisa menjadi diriku.

Pada mulanya, semua berjalan sangat manis. Aku mendapatkan kucuran cinta yang luar biasa. Permintaan apa yang tidak bisa aku gapai? Tidak ada. Sebagaimana keadaannya, dia selalu bersedia memenuhi mauku. Dibawanya aku di depan keluarganya, dipamerkannya aku seperti sebuah piala ke setiap lingkungannya. Aku tidak tahu, tapi aku merasa dia sangat bangga memilikiku. Namun cinta yang dalam dan “keterlaluan” itu nyatanya juga bukan suatu yang sehat.

Dia berkata dengan lembut, “Kamu harus menutup rambutmu.”
Kupikir itu adalah sebuah tanda kasih karena memang demikian yang memang kuyakini juga baik kala itu. Ada hal yang mengganjal, namun aku mengabaikannya.
“Jangan potong rambutmu, aku suka rambutmu yang panjang.” Dan aku berpikir itu adalah suatu saran yang baik karena kupikir aku akan nampak cantik dengan rambut panjangku. (Saat ini aku memanjangkan rambutku, tapi itu karena aku, bukan karena suruhan orang.)
“Kamu tidak perlu pergi tamasya bersama teman-temanmu. Nanti jika waktunya tiba, aku yang akan mengantarmu.” Sebuah hal yang kukira manis karena dia ingin menghabiskan banyak waktu bersamaku.
“Mengapa kamu mengucapkan kata-kata kasih sayang kepada sepupumu?” Tanyanya ketika aku memberi selamat di hari pernihakan sepupuku. Ini mulai tidak masuk akal tapi pikiranku tetap menyangkal, dia hanya terlalu cinta.
“Aku percaya kamu bisa belajar sendiri, tidak perlu belajar bersama teman-temanmu.” Ini sudah tidak benar, pikirku.

Dari sanalah aku menjadi seorang yang banyak berbohong, sebuah keadaan yang sebenarnya sangat kubenci. Karena satu kebohongan akan mendatangkan banyak kebohongan lain. Namun kehilangan diriku sendiri juga terasa menyakitkan.

Aku memang merasa dicintai sedemikian dalam namun aku kemudian merasa hanya menjadi sebuah anjing peliharaan. Aku diminta untuk terus mengekor padanya, menjadikan dia duniaku, sementara aku juga punya kehendak sendiri. Belum pernah aku merasa kehilangan kebebasanku seperti ketika aku bersamanya kala itu. “Tapi ini cinta,” demikian yang selalu dia kumandangkan. Lalu aku menjadi percaya.

Hingga aku sampai pada satu titik yasudah tidak apa-apa, namun kemudian dia melakukan hal yang selama ini dia batasi untukku melakukannya. Aku memang cenderung meredam emosiku sendiri ketika ada riak-riak kecil bergemuruh di dadaku. Namun jika trigernya sudah besar, aku akan seperti minuman soda yang dimasuki permen Menthos. Kabar buruknya, aku lalu menjadi botol yang kosong. Setelah dia menerobos garis yang dia buat sendiri, aku putuskan tidak ada kata kembali. Sejauh apapun hubungan kami, sebesar apapun aku merasa dicintai.

Namun aku sadar itu bukan cinta. Dia tidak mencintaiku, dia hanya takut kehilanganku. Atau lebih tepatnya dia tidak suka kehilangan kontrolnya terhadap diriku.

Ada banyak hal yang kupahami sekarang bahwa rasa takut atau kontrol di dalam dirinya juga mungkin merupakan bagian dari luka yang dia tidak tahu. Aku memahami mengapa dia berlaku demikian tapi bukan berarti aku menerimanya. Aku juga tidak menyalahkan dia sepenuhnya. Di masa itu, tentu aku juga belum memiliki kecerdasan emosional untuk menakar mana cinta yang tulus dan mana ketakutan dan kontrol yang berkamuflase seperti cinta.

Pada akhirnya dari perjalanan yang cukup menguras tenaga itu, aku banyak belajar. Aku sekarang menjadi seorang yang lebih masuk akal (dalam takaranku) tentang perilaku mencintai dan dicintai. Aku jadi tahu bahwa ternyata kebebasanku adalah nomor satu untuk hal yang membuatku merasa bahagia. Hal yang paling manis adalah aku menemukan jalan untuk lebih mencintai diriku sendiri.

Lebih mencintai diriku sendiri adalah pelajaran berharga bukan hanya dari perjalanan dengannya. Setiap cinta yang tumbang bersama orang lain, senantiasa menjadi tunas cinta baru untuk diriku. Mungkin nampaknya aku kehilangan cinta, tapi nyatanya aku menemukan cinta yang lebih dalam untuk diriku, dari diriku.



Leave a comment