Ada banyak cara untuk menyembuhkan luka di dalam diri kita. Setiap orang tentu berbeda-beda. Apapun itu, adalah perjalanan yang unik milik masing-masing. Bagiku, sembuh sendiri adalah jalanku.
Mengapa sendiri? Aku hanya membayangkan jika dalam setiap piluku disembuhkan dengan seseorang. Maka jika seseorang itu pergi, aku akan merasa pilu lagi. Tapi dengan sembuh sendiri, dengan atau tanpa orang lain, aku bisa tetap menyembuhkan lukaku. Artinya, bahagiaku tidak bergantung akan hadirnya orang lain. Ini bukan berati aku tidak membutuhkan orang lain. Aku manusia biasa, makhluk sosial yang senantiasa perlu koneksi untukku tetap hidup. Namun, aku tidak melekat pada satu individu untukku tetap bisa melanjutkan hidup.
Apakah aku tiba-tiba memilih untuk sendiri dan menghadapi segala kegelapan yang ada di kepalaku? Tidak sama sekali. Aku juga banyak mencari sandaran yang kemudian aku sadari itu semua adalah rapuh. Aku mencari cinta di orang lain. Namun, selama aku tidak bisa merasa nyaman dengan diriku sendiri, selama aku bukanlah sumber cinta utama untukku, aku tidak akan pernah merasa nyaman dengan orang lain dan aku tidak akan menemukan cinta di orang lain.
Lalu bagaimana menjalani sendiri? Aku juga tidak mengerti bagaimana menjabarkannya selain “jalani saja”. Aku tidak punya kapasitas intelektual dan emosional yang mumpuni kala itu karena menjalani sendiri bukanlah hal yang mudah. Apakah aku terombang-ambing? Sangat. Apakah aku tersesat? Iya.
Ada beberapa hal positif yang kulakukan ketika sendiri karena aku juga tidak tidak tersesat sepanjang waktu.
Aku pergi bertamasya. Kebetulan aku tinggal di Bali jadi aku banyak berkeliling sekitar kala itu. Aku pergi ke Uluwatu beberapa kali. Aku staycation di Ubud dan Sanur. Aku ke Gianyar dan Buleleng untuk mencari air terjun. Aku juga pergi ke Tabanan melihat persawahan. Semua kulakukan sendiri mengendarai motorku. Aku bahkan sampai sekarang tidak bisa memproses bagaimana aku bisa melakukan semua itu karena sekarang berkendara tujuh kilometer saja bagiku adalah jarak yang jauh.
Ketika sendiri aku juga banyak menggambar. Aku banyak berganti buku gambar ketika 2020 hingga 2022. Aku juga banyak membeli peralatan melukis kala itu.
Beberapa kali jika hariku sedang tidak biru, aku juga suka memasak makanan kesukaanku. Aku suka menyiapkan bekal makan siang untuk kusantap di tempat kerja.
Menjalani sendiri tidak seburuk itu jika memiliki sumber daya.
Lalu apakah uang membuatku bahagia? Tidak sepenuhnya. Namun dia menjadi penopang untuk sembuh dari luka. Dalam sendiri yang mana aku berkelimpahan dan tidak kekurangan materi, aku tetap sering menangis di berbagai situasi terutama di malam sunyi. Aku tetap merasa kelelahan sepanjang waktu karena pikiranku tidak pernah beristirahat cukup. Namun aku tidak berhenti. Aku tetap menjalani apa yang seharusnya kujalani.
Tidak ada tips atau trik tertentu tentang jalan sembuh dari luka hanya dengan diri sendiri. Kuncinya adalah tetap menjalani saja hingga kemudian pada akhirnya menemukan nyaman dan tenang dalam sendiri itu.

Leave a comment