Seperti yang telah aku tuliskan di Teman Terbaik sebelumnya, setiap teman memiliki musim dan porsinya masing-masing. Itulah mengapa semua mereka berharga karena mereka menjadi bagian diriku di satu titik tertentu.
Jika aku menulis ini ketika aku masih SMA, tentu aku akan menulis tentang Elia. Jika aku menulis ini ketika aku di perkuliahan, Sabrina akan jadi pemilik terbanyak rangkaian kata. Namun karena aku menulis ini di 2025, Hendra adalah topik utamanya. Elia dan Sabrina luar biasa. Aku terus merayakan momen yang kami miliki bersama. Lalu jika aku bisa menembus ruang dan waktu, aku akan selalu mengunjungi hari-hari bersama mereka.
Aku biasa terkoneksi dekat ketika secara fisik pertemanan itu masih sering bersua, dalam waktu dan tempat yang sama. Pertemanan memudar bukan berarti ada yang kurang dalam kebermaknaan hubungan. Manusia bertumbuh dan lalu kami tidak lagi berjalan beriringan. Aku percaya mereka juga telah menemukan teman-teman terbaiknya saat ini dan aku turut bersuka cita untuk itu. Mereka layak mendapatkannya. Dan musimku bersama Hendra memang yang paling panjang, terhitung sejak 2018 hingga sekarang. Aku masih bersinggungan dengannya meskipun tanpa diiringi banyak jumpa.
Tapi ini bukan hanya tentang hitungan waktu.
Hendra menyaksikan banyak versi diriku. Pertumbuhanku dari seorang yang young, wild, and free, menjadi seorang yang mature, stable, dan masih free tentunya. Dia mengalamiku dari musim yang bahagia, malam tergelap, hingga tumbuh lagi seperti tunas baru setelah badai hebat menerjang. Hendra tahu itu. Manis dan sekaligus pahitnya, dia menjadi beberapa bagian dari berbagai musim itu.
Kami berjumpa 2018, biasa saja. Tidak ada yang menarik dari dia sama sekali terutama karena dia membicarakan hal yang sangat tidak penting: celananya yang basah. Sebelumnya dia cukup menyebalkan karena tidak melibatkanku dalam pembicaraan. Pertemanan kami kemudian menjadi aneh dan rancu. Kami ceroboh dan impulsif. Tapi di saat itu kami juga memiliki dunia lain sendiri. Dia bersama kejayaan kisah asmaranya, aku dalam mula kehancuranku. Situasinya rumit yang mana ketika aku mengharap dia ada, dia tidak ada di sana.
Awal 2019 kami sama-sama menepi. Aku hanya mengikuti pola umumku di mana ketika teman sudah tidak saling jumpa, di sana musim bersamanya juga jadi berganti. Tapi kami masih bercakap dalam telepon. Aku tidak mengerti, aku hanya menjalani. Dia punya dunianya dan aku sedang memulai duniaku yang baru. Lalu kami masih saling bercerita tentang dunia kami masing-masing.
Di tengah hiruk pikuk kisah Hendra, aku hampir menjadikan dia duniaku. Itu bermula dari kebodohan dan ketidakbijaksanaan kami. Dia sangat bajiangan ketika itu, bahkan sebagai seorang teman. Tapi aku juga problematik. Aku tidak mengerti. Aku jadi begitu menyukainya padahal tahu bahwa dia memiliki nama lain yang tersemat dalam di pikirannya, di hatinya.
2020
Dia benar menjadi temanku satu-satunya karena aku menutup diri dari dunia luar. Aku tidak mengizinkan diriku banyak bicara kecuali dengannya. Secara tidak langsung, dia memiliki bagian yang signifikan dalam duniaku. Inilah masa malam tergelapku kala itu. Dan dia di sana meskipun aku berulah agar dia membenciku. Musim itu aku benar-benar ingin meniadakan semua orang dari hidupku meskipun di sisi terdalamku aku membutuhkan mereka. Namun Hendra bergeming, dia tetap di sisiku. Lalu ketika aku bertanya mengapa, “Tidak ada alasan untuk tidak berteman denganmu,” jawabnya.
2020 aku mencintainya. Lalu karena cinta itu tidak jadi satu, aku punya pelajaran berharga dari proses melepas diriku dari kemelakatan dengannya.
2021
Aku menjadi lebih gila. Aku tahu Hendra bicara dengan wanita lain dan aku tidak suka. Jika di tahun sebelumnya aku beraksi agar kami tidak berteman lagi, 2021 aku ingin Hendra hanya memilikiku sebagai orang terdekatnya. Aku lupa dia punya dunianya sendiri, sejak pertama selalu demikian. Aku hanya bagian dari dunianya, bukan seluruhnya. Singkat cerita, kami berhenti bicara. Kami tidak lagi tahu satu sama lain lagi. Aku bersama juga laki-lain ketika itu tapi aku tidak suka Hendra bersama wanita lain. (Aku terkekeh menulis ini bagian tahun ini, betapa aku yang serakah dan ingin menang sendiri).
Kami lalu tidak bicara selama enam bulan hingga suatu ketika Hendra kembali menghubungi menanyakan kabar. 2022 adalah tahun yang indah dan stabil. Kami saling mengisi hari-hari dengan cerita di hidup kami, dengan apa saja yang ada di pikiran kami. Aku sudah jauh lebih dewasa dan jauh lebih rela dengan apa yang terjadi. Aku tidak ingin lagi menjadikan Hendra duniaku dan mulai memilih untuk mengasingkan romansa dari dalam kehidupanku. Hendra adalah romansa terakhirku kala itu. Namun ternyata aku keliru. Ketika dia mulai menjalin hubungan toxic dengan wanita lain, aku masih marah.
2023, tidak ada Hendra di hidupku hingga paruh tahun berikutnya.
Mungkin ini adalah waktu paling lama aku tidak bicara dengannya. kabar baiknya, aku mulai membuka diri dengan orang lain. Aku mengizinkan orang lain menjadi temanku meskipun hanya ala kadarnya tapi aku merasa cukup bahagia. Aku mengeksplorasi lagi berbagai macam manusia.
2024
Kami berbincang lagi. Dalam setahun terakhir senyap itu, ada banyak hal yang saling kami lewatkan dan itu ternyata menjadi satu hal yang menarik diulas, didiskusikan, dan tentu saja ditertawakan.
Hari ini, di penghujung 2025, aku dan dia semakin baik. Pertemanan kami sangat sehat dan tidak ada lagi drama di antara kami. Ada drama beberapa waktu terakhir tapi itu hanyalah bahan bakar tawa di percapakan kami di malam-malam yang sunyi.
Dia mendapatiku di berbagai musim. Aku juga mendapatinya di berbagai musim. Dan sekarang kami masih dalam satu musim meskipun memiliki dunia masing-masing.

Leave a comment