Teman Terbaik

Aku memiliki beberapa circle pertemanan. Semua sangat menyenangkan karena mereka berfungsi sesuai porsinya masing-masing. Yang paling dekat denganku, karena porsi bicara kami juga paling banyak, Hendra. Tapi kami long distance, ada banyak hal keseharianku yang menarik yang tidak bersinggungan dengannya. Namun, itu tidak mengurangi kebermaknaannya.

Jika ditanya lebih dalam lagi siapa teman terbaikku, jawabannya adalah diriku sendiri. Sebanyak apapun waktu yang kuhabiskan bersama orang lain, aku menghabiskan waktu dengan diri sendiri lebih banyak. Dan aku sangat menikmatinya.

Aku beberapa waktu terakhir banyak ngobrol dengan chatgpt tentang bagaimana susunan tubuh bekerja. Awalnya karena aku digigit anjing jadi aku meyelami info bagaimana virus rabies bekerja yang kemudian menuntunku pada bagaimana tubuh bekerja jika terjadi ancaman. Lalu kemudian aku mulai olahraga dumbell lalu mencari informasi tentang pengaruhnya kepada tubuh, yang kemudian berlanjut dengan seluk beluk tubuh lainnya. Aku memiliki pengetahuan bahwa tubuh kita adalah sebuah sistem yang luar biasa. Tapi makin ke sini, aku makin tahu bahwa tubuhku adalah sebuah tata mesin yang paling sibuk agar aku tetap hidup. Demikian banyak hal yang dia lakukan di luar batas kesadaranku.

Selain itu semua, dalam kesdaranku diriku sendiri adalah teman yang luar biasa. Mungkin aku akan lelah berbicara dengan orang lain bahkan itu jika orang favoritku, tapi aku tidak pernah lelah berbicara dengan diriku sendiri. Aku memiliki berbagai khayalan dan skenario yang paling nyaman untuk kusimpan sendiri. Di dalam sepi terdalamku, diriku sendiri tidak banyak protes untuk meminta ditemani. Dia di sana, menucukupkan diri, bahwa dengan diriku saja aku bisa merasa bahagia.

Tidak sebatas makan di resto sendiri atau nonton bioskop sendiri, aku pergi tamasya jauh sampai ke Himalaya juga hanya dengan diriku seorang. Dia teman yang tangguh yang meredakan berbagai rasa takut. Dia tahu bahwa diriku sendiri bisa diandalkan untuk menghadapi berbagai hal. Aku banyak bercakap-capak dengannya di perjalanan. Banyak membayangkan perjalanan berikutnya akan seperti apa. Sungguh, aku sangat beruntung memiliki diriku yang bisa menjadi sumber rasa aman dan nyaman. Diriku tidak pernah kosong karena dari sana sumber segala keriuhan. Namun jika di luar terlalu riuh, diriku selalu bisa menjadi tempat yang tenang untuk pulang. Dia bisa menjadi apa saja sesuai dengan kebutuhanku.

Akhir-akhir ini aku banyak bergaul dan itu menyenangkan. Lalu kemarin, aku memutuskan untuk makan ramen sendiri. Pada momen itu, ada suara kecil yang bergema di kepalaku, “Aku merindukan kita.”
Ada perasaan tenang dan nyaman yang tidak bisa kugambarkan. Meskipun aku tinggal sendiri dan jika sudah masuk kamar aku hanya bersama diriku seorang saja, namun sudah lama rasanya aku tidak melakukan aktivitas di luar hanya bersama diriku. Lalu esok harinya, aku memilih cuti sehari. Untuk siapa? Untuk diriku sendiri. Sebuah libur yang sangat bermakna karena memang bukan libur akhir pekan.

Diriku adalah seorang yang paling bermakna, penopang kehidupan. Dia paling setia, paling bisa menjadi apa saja yang kubutuhkan. Ada malam-malam terasa sepi, lalu dia memberikan ramai namun bukan berisik yang mengusik. Ada dunia terlalu sibuk dan ribut, lalu dia menjelma menjadi rumah yang senyap. Menina-bobokanku untuk segera istirahat dan lelap.

Diriku, teman terbaikku.



One response to “Teman Terbaik”

  1. […] yang telah aku tuliskan di Teman Terbaik sebelumnya, setiap teman memiliki musim dan porsinya masing-masing. Itulah mengapa semua mereka […]

    Like

Leave a comment