Alunan Musik

Aku baru saja melakukan terapi malam ini. Perbincangan dengan Sastradi di sesi tadi cukup lama. Aku menanyakan satu pertanyaan yang membutuhkan jawaban kompleks tapi Sastradi selalu bisa menjawabnya dengan sederhana.

“Apa yang terjadi di kepalaku, hingga aku belum bisa kembali berfungsi tanpa obat-obatan?”

Pada mulanya dia menjwabdengan pertanyaan yang sudah sering dia berikan, “Ada yang salah dengan obat-obatan?”
Dia menjelaskan kembali bahwa untuk kondisi tertentu, obat seperti air putih, seperti nasi, yang memang beberapa individu membutuhkannya.

Aku berkata aku tidak masalah dengan semua itu. Aku berkilah membuat percakapan palsu, yang mana sebenarnya itu adalah percakapan dengan diriku sendiri.
“Hampir tujuh tahun bergumul dengan semua ini, sampai kapan lagi?” Aku menyampaikannya seolah itu orang lain yang bertanya padaku. Aku mengambinghitamkan ibuku yang kubuat pura-pura dia bertanya mengapa aku masih minum obat. Semua itu kuramu dengan wajah ceria agar meyakinkan dia bahwa aku tidak apa-apa menjalani semua ini, aku hanya perlu jawaban yang bisa membantuku menjelaskan pada beberapa orang yang bertanya.
Tapi aku tidak sepenuhnya berbohong, beberapa orang memang menanyakanku hal itu.

Setelah Alegori Pohon, Sastradi bercerita tentang alunan musik.
“Di kepala kita terdapat ratusan cairan kimia. Mereka mengalirkan aliran listrik, seperti iring-iringan alunan musik. Jika semuanya bekerja sesuai porsinya, nadanya, temponya, tidak akan jadi masalah. Alunan musik itu senantiasa berubah sesuai situasi dan kondisi tubuh. Alunan musik itu juga tercipta dari memori, bahkan memori sejak di dalam kandungan. Jika mereka mengalun tanpa sinkronisasi, dari sanalah fungsi tubuh terganggu. Emosi yang tidak stabil, tidur terganggu, ada mungkin berdebar, sesak napas, dan banyak hal lainnya.”

Kemudian aku bertanya, “Emosiku sangat stabil akhir-akhir ini dan aku juga sudah bisa menjalani kehidupanku dengan baik.”

“Memang benar. Namun, seperti yang saya bilang tadi, ada ratusan cairan kimia yang bekerja dan itu tidak hanya tentang ‘perasaan’ saja. Yang kamu alami sekarang adalah masalah mood. Tidak sesederhana flu, tapi cukup mirip. Kadang dia datang hari ini, lama tidak muncul, lalu datang lagi. Kedatangan itu lah yang perlu diwaspadai karena jika alunan musik itu tidak dirawat harmoninya, bisa mengganggu fungsi hidup lebih banyak lagi.

“Ini tidak akan selamanya. Banyak juga yang datang ke mari dan tidak memerlukan obat-obatan,” sambungnya.

“Saya merasa saya tidak punya masalah hidup. Semestinya, alunan musik di kepala saya bisa mengalun dengan harmonis.”

“Seperti yang saya katakan tadi, alunan musik itu tidak hanya berkaitan dengan saat ini. Memori-memori masa lalu juga mempengaruhinya.”

“Tapi saya juga sudah tidak terganggu dengan memori masa lalu.”

“Memang benar, tapi otak mengingat lebih banyak daripada apa yang kamu sadari untuk diingat. Memiliki masalah memang bisa berpengaruh terhadap alunan musik itu. Namun, punya masalah atau tidak sebenarnya tidak sebagaimana ada hubungannya.

“Apa sih pengertian dari ‘masalah’ itu sendiri? Ada orang memiliki masalah dan ketakutan dengan ketinggian. Namun ada orang yang malah suka memanjat tebing yang cukup berbahaya dan bertaruh nyawa. Bukankah dia sedang menuju ‘masalah’? Apa kamu punya satu hal, misalnya, yang tidak masalah bagimu tapi masalah untuk orang lain?”

“Ada. Tentang berpasangan.”

“Itu. Jika kita melihat lebih dalam lagi, masalah hanyalah sebuah sudut pandang. Jadi tidak perlu menggunakan patokan orang lain ketika berbicara tentang ‘masalah’ karena setiap individu dalam memandang masalah itu unik.

“Sekarang lihat ke dalam diri sendiri lebih penting. Dulu kamu datang ke mari dengan banyak murung dan sering menangis. Sekarang lihat?! Apa kamu mau kembali seperti yang dulu?”

“Tentu saja tidak.”

“Tidak, kan? Nha dari situ kita bersama-sama menjaga itu semua. Menjaga segala apa yang telah kamu capai. Membuatnya lebih baik lagi di masa depan. Kamu yang menerima sebagaimana adanya dirimu sekarang sudah sangat bagus.”

Kami juga bercakap-cakap tentang keseharianku, pekerjaanku, dan hal-hal kecil lainnya yang menurutku biasa saja tapi Sastradi selalu mengetik sambil mendengar hal-hal yang kuanggap kecil itu.

Aku memang memiliki beberapa pertanyaan. Kadang aku juga merasa ini seperti jalan yang tidak tahu di mana ujungnya. Tapi di balik segala kisruh di kepalaku, aku sangat bersyukur memiliki perjalanan ini. Aku sangat bersyukur diberi kesempatan belajar bersama Sastradi.



Leave a comment