11 Oktober 2025
“Ini sudah pekan ke-3. Max belum menghubungiku. Aku tidak memikirkannya terlalu banyak. Tapi mungkin memang aku tidak pantas untuk didekati, untuk dicintai.”
Kata diriku, pasti, jika aku masih seperti aku yang 28 tahun.
Tapi aku sekarang adalah aku yang berusia 32 tahun. Mungkin waktuku dan Max hanya enam hari saja. Tapi dari Max selain belajar jatuh cinta lagi, aku juga belajar “Oh ternyata ada seorang di luar sana yang affectionate terhadapku. Ternyata aku layak mendapatkan cinta yang romantis.”
Bagaimana aku bisa bercakap banyak dan lalu dia memberi banyak gestur yang hangat tidak terjadi dalam satu malam. Kami berdua kali pertama bertemu di bus menuju Syabrubesi. Dia hanya bertanya, “Kamu ke Langtang?” Lalu kuiyakan. Di tengah perjalanan kami singgah untuk makan siang. Kami makan satu meja dengan perbincangan basa-basi: berapa lama akan di Nepal, dari mana asalnya. Kami bahkan tidak saling bertanya nama. Benar-benar percakapan yang datar. Dia bercerita sedikit tentang perjalanan selanjutnya ke Laos dan Thailand. Aku bercerita sedikit tentang Chiang Mai. Dia menyimak dengan sesama dan menanyakan siapa nama anak gajah yang baru saja lahir di tempat konservasi yang dulu kudatangi.
Malam pertama di Syabrubesi, hotel kami berbeda. Aku juga belum banyak berpikir tentang dia. Bertemu dan berbincang dengan orang luar bukanlah hal yang baru bagiku dan kupikir percakapan di tempat makan siang itu adalah satu-satunya percakapan kami karena kami berasal dari dua grup berbeda. Kupikir nanti dia akan berjalan sendiri dengan guide-nya, menginap di hotel yang berbeda lagi.
Trek hari pertama aku bertemu dia di persimpangan. Kami saling sapa dan saling berbasa-basi. Dia berjalan lebih dulu karena memang tentu saja dia jalan lebih cepat. Di hotel pertama, dia bahkan sampai dua jam lebih awal daripada aku. Tapi perkiraanku keliru. Malam kedua, kami menginap di hotel yang sama. Kami pun duduk bersama di ruang makan untuk makan malam. Ruang makan yang kecil jadi meskipun kami tidak duduk bersampingan, kami masih bisa berbincang. Aku hanya bercerita tentang perjalananku trek hari pertama ini. Kuceritakan bagaimana aku terkesima dengan air terjun. Kuceritakan aku sangat takut dengan jalan yang longsor tapi aku bersyukur guide dan porter-ku sangat membantu. Max banyak mendengar. Dia hanya berkata bahwa dia setuju tentang pemandangan yang menakjubkan sepanjang perjalanan. Aku bahkan lupa setelah perbincangan itu, siapa yang duluan kembali ke kamar. Aku mulai bersyukur ketika itu karena ada seseorang untuk berbincang. Guide dan porter tidak makan bersama tamunya. Demikian peraturan tidak tertulis yang ada di sana.
Pagi harinya di ruang makan, aku melihat Max sudah ada di sana. Sepertinya dia juga sudah selesai makan, aku tidak terlalu memperhatikan. Aku hanya berbasa-basi betapa semangat aku pagi ini (aku benar-benar bersemangat). Di pagi hari itu pula aku baru menyadari ternyata Max tidak pernah mengeluarkan telepon selulernya. Sangat kontras dengan para turis yang lain, yang selalu memandang layar ketika makan. Lalu meskipun Max sudah selesai makan, dia hanya duduk tenang dan memperhatikan sekitar. Pagi itu, beberapa kami bertemu tatap karena aku juga mulai memperhatikan dia. Dan setiap mata kami bertemu, aku tersenyum.
“You’re so smiley,” tuturnya.
Trek hari kedua aku berangkat lebih awal. Aku paham bahwa aku berjalan pelan jadi aku harus memulai perjalanan ini lebih dulu daripada turis-turis yang lain.
Di sinilah Max mulai bercanda, “So you’re gonna leave me?”
“Oh, you will pass me in ten minutes,” kataku.
Dan benar saja, sekitar 30 menit setelah aku berjalan, Max menyalipku. “See you on top,” katanya.
Trek hari kedua adalah trek yang sangat panjang. Kombinasi dari tanjakan-tanjakan curam di vegetasi terutup dan jalan lurus tapi menanjak di vegetasi terbuka. Aku tidak tahu berapa jarak dari Lama Hotel ke Desa Langtang. Yang jelas aku menempuhnya selama sepuluh jam tiga puluh menit. Di malam ketiga itu, aku juga menginap di hotel yang sama dengan Max. Ketika aku baru sampai sekitar pukul enam, Max sudah bersih dan rapi. Aku bertemu di lorong ketika aku hendak mengambil gembok kamar. Di lorong itulah Max mulai bercerita tentang dia yang baru menekuni praktik meditasi vipassana. Aku tertarik dan bertanya tentang pengalaman meditasinya. Aku menanyakan juga tentang apa yang memotivasinya melakukan meditasi itu. Dari situlah dia lalu sedikit bercerita tentang masa lalunya. Aku ingat ketika itu Max sudah hendak beristirahat karena dia juga sudah makan dan bersih-bersih. Guide-ku datang bahwa makan malamku sudah siap. Aku mengucapkan selamat malam dan selamat istirahat kepada Max dan berjalan menuju ruang makan. Beberapa saat kemudian setelah aku duduk dan bersiap menyantap makananku, aku melihat Max datang menghampiriku. Dia lalu duduk di sebelahku.
“Do you talk while eating?” Dia bertanya.
“I don’t mind. Talking or not, both fine with me.”
“So can we talk?”
“Sure!” Seruku, meyakinkan. Dalam hatiku aku berpikir kagum betapa dia sangat considerate.
Aku sudah lupa detail ceritanya. Tapi percakapan itu cukup seru sehingga membuat proses makanku agak lama. Dia bercerita tentang sedikit masa lalunya yang cukup kelam, tentang fokusnya saat ini, tentang impiannya di kemudian hari. Kami juga berbincang tentang astrologi. Kesamaan kami adalah, kami suka spiritualitas dan juga sama-sama banyak melakukan inner work untuk hal-hal berat yang telah kami alami. Hingga makanku selesai, kami masih saling bercerita. Biasanya aku selesai makan pukul tujuh dan lalu pergi tidur. Malam itu, aku keluar dari ruang makan pukul sembilan tigapuluh. Hal yang sangat membuatku tersentuh adalah ketika Max berkata,”You’ve must been through a lot until you are in the state of peace like now. You’re beautiful soul.“
“You are a gentle soul,” timpalku.”
“Can I hug you?” tanya Max.
Lalu kami berpelukan, erat, cukup lama. Kami kemudian keluar dari ruang makan menuju kamar masing-masing. Di lorong ketika kami bertemu tadi, kami saling mengucap selamat malam dan selamat tidur.
Pagi harinya kami bertemu kembali di lorong. Di kamarku ada kamar mandi namun tidak memiliki wastafel. Sementara di lorong kamar ada wastafel jadi aku memutuskan untuk menyikat gigi di sana. Ketika aku menyikat gigi, Max keluar kamar. Max adalah seorang yang lembut dan tenang sejak aku bertemu dia pertama kali di bus di Kathmandu. Namun, pagi itu, aku melihat senyumnya berbeda. Lebih berkembang dan bersemangat. Kami saling menyapa dan saling bertanya bagaimana tidur kami semalam.
“I can smell you,” tutur Max.
Aku khawatir jangan-jangan aku berbau tidak sedap karena memang kemarin malam aku tidak mandi. Aku tidak banyak berkeringat karena berjalan dari 2400 – 3600 mdpl. Aku sampai di hari yang sudah lumayan gelap. Suhu enam derajat celcius.
“What smell?” Tanyaku gugup.
“Your perfume, it smells good.”
“Thank you,” kataku sambil menarik napas lega.
Setelah selesai bersiap aku menuju ruang makan. Max belum ada di sana. Jadwal makannya 7.30 sedangkan jadwal makanku 7.00. Ketika aku hampir selesai makan, Max menghampiriku, memberiku pelukan selamat pagi, mengusap kepalaku. “I like your outfit. You look cute wearing this,” katanya sambil memegang beanie yang kupakai. Aku mengucap terima kasih sambil gugup. Aku merasa Max menjadi lebih affectionate dan touchy setelah percakapan semalam. Kami tidak berbincang banyak karena aku harus segera memulai perjalanan.
“See you on the way. You’ll pass me,” kataku.
Seperti yang sudah-sudah, dia benar menyalipku. Bedanya, ketika kami bertemu di jalan, dia memelukku lagi. “There you are,” katanya bersemangat. Dia bertanya berapa kali sudah aku berhenti. Kujawab, ratusan, dan dia tertawa. “I like your joke.” Dia mengusap pundakku sekali lagi sebelum melanjutkan perjalanannya.
Pagi itulah aku mulai menyimpulkan perasaanku, sepertinya aku jatuh cinta.
Dari Langtang ke Kyanjin Gompa hanya memerlukan perjalanan setengah hari. Aku sudah melihat Max di teras hotel ketika aku sampai di sana. Namun meskipun kami memiliki banyak waktu senggang ketika itu, aku memilih untuk di kamar dan tidur setelah makan siang. Untuk kali pertama aku makan siang bersama Max. Mungkin itu makan bersama kami satu-satunya karena sebelumnya aku tidak pernah menjumpai Max makan. Max menunjukkan tempat yang akan dia kunjungi ketika nanti dia ke Laos dan Thailand. Untuk pertama kali aku melihat Max mengeluarkan hp-nya. Aku juga merasa dekat dan tidak canggung lagi ketika dia menyentuh atau mengusap tangan atau pundakku. Aku merasa seribu kupu-kupu beterbangan di perutku. Aku menyukai ketika berada di dekatku dan bahkan menantikan momen untuk bisa berdua lagi dengannya. Tapi semesta hanya memberi waktu satu malam saja, malam kemarin di Memorial Hotel, untuk kami bisa berbincang dengan leluasa. Malam di Kyanjin Gompa, ada banyak turis di hotel. Ruang makan ramai. Selain itu, aku dan Max tidak duduk berdekatan. Itu adalah malam terakhir kami bersama karena Max masih memiliki sisa hari untuk trekking lagi ke Kyanjin Ri. Sementara esok harinya, aku sudah mulai turun.
Max beranjak lebih dulu dari ruang makan, ketika itu hampir pukul tujuh malam. Dia hendak bermeditasi. Namun, sebelum dia pergi dia menyalami proter dan guide-ku, dan berkata, “So, this is our last time meeting.” Mereka lalu berbincang selamat tinggal.
Hatiku tiba-tiba terasa sendu malam itu. Max menghampiriku. Aku paham mungkin aku tidak bisa menyembunyikan ekspresiku. Aku berkata jujur betapa aku bersyukur bertemu dengannya di perjalanan ini, betapa aku merasa tenang dan nyaman ketika bertemu dengannya. Aku bertanya padanya apakah kita bisa bertemu lagi. Max berkata, “I’ll see you in Bali.” Aku ragu karena di perbincangan kemarin, lebih dari sekali Max memberi tahu bahwa dia tidak terlalu suka tempat yang ramai banyak turis. Tapi kemudian dia berkata dia akan ke Bali. Dia juga menanyakan nomor hp-ku. Tapi entah mengapa aku tidak meminta balik nomor hp-nya. Max belum menghubungiku sampai saat ini dan aku juga tidak bisa menghubunginya.
Aku tidak tahu Max sekarang ada di mana. Mungkin dia masih di Laos atau sudah di Thailand. Perasaan menggebuku terhadapnya juga sudah mulai berkurang. Pelajaran dari pertemuanku dengannya makin kentara.
Max mengajarkanku untuk merasa jatuh cinta lagi, berbunga-bunga lagi, berkupu-kupu lagi. Dulu, aku akan sangat menahan dan bahkan seolah tidak mau untuk merasakan hal-hal seperti itu karena aku takut menderita. Tapi tidak dengan perasaanku terhadap Max. Aku jatuh cinta dengan bahagia dan penuh sukacita. Meskipun sampai sekarang juga tidak nampak ada sesuatu di antara kami, perasaanku bukan lagi tentang Max. Perasaanku sudah menjadi pengalaman pribadiku sendiri. Max hanyalah perantara aku bisa merasanya.
Max memberiku kepercayaan diri bahwa aku layak dicintai secara romantis. Oh, aku tidak kekurangan cinta karena aku merasa banyak dicintai setiap napas yang ada di sekitarku. Tapi pengalaman masa lalu pernah membuatku mempertanyakan diriku sendiri ketika Ayam lebih memilih si A. Aku akhirnya menemukan dan membangun kebermaknaanku sendiri seiring berjalannya waktu, tidak lagi bergantung pada orang lain untuk memaknaiku. Lalu setelah bertemu Max, setelah segala gestur yang dia tunjukkan kepadaku, membuatku percaya ada seorang di luar sana memperlakukanku sangat manis, memberikanku rasa nyaman dan merasa dicintai. Pandanganku tentang cinta romantis bertumbuh jadi lebih baik. Aku mungkin ditakdirkan untuk cinta romantis itu. Cinta romantis itu mungkin sedang berjalan menujuku. Di luar sana ada seorang yang memiliki kesamaan dan kesukaan yang sama denganku. Ada seorang yang mungkin bisa membersamaiku tanpa membatasi kebebasanku. Aku menjadi semakin terbuka untuk cinta itu. Bukan berarti aku desperate menanti dan menganggap bahagiaku bergantung pada cinta romantis. Aku merasa sangat bahagia dengan hidupku sendiri saat ini. Aku adalah pribadi yang utuh tidak kekurangan suatu apapun. Dan jika cinta itu datang, dia datang menambah bahagiaku.
Max, terima kasih.
Terima kasih sudah menjadi teman berbincang yang dalam dan sangat nyaman. Terima kasih sudah membuatku merasa jatuh cinta lagi. Terima kasih telah membuat pandanganku tentang cinta bertumbuh dengan lebih baik. Mungkin kamu bukan orangnya, tapi kamu adalah jalannya. Meskipun aku hanya mengenalmu selama enam hari, kamu memberikan perbedaan, perubahan yang besar untuk pengalamanku dalam “merasa”. Aku menyukainya dan aku bersyukur banyak atas itu.


Leave a comment