Memaknai Ketidakbermaknaan

Sekitar satu pekan yang lalu, aku bermimpi bertemu Abah. Aku tidak tahu mengapa mimpi itu hadir sementara aku tidak banyak mengingatnya akhir-akhir ini. Bahkan semakin ke sini, aku merasa semakin berjarak dengannya. Bukan karena ketika mengingatnya, hatiku masih sedikit biru. Tapi, lebih ke tentang bagaimana aku melihat masa lalu sebagaimana adanya. Tidak lagi menghakimi, tidak lagi mengutuki. Hatiku terasa lebih ringan dan tenang.

Mimpi itu, meskipun satu mimpi yang ceria, aku masih terbayang-bayang hingga saat ini. Ada saat di mana di antara hariku yang sibuk, terlintas wajahnya yang ada di dalam mimpi. Sejujurnya aku tidak yakin seratus persen apakah memang rupa wajahnya demikian, tapi benakku meyakinkan ‘memang demikian.’

Ada kemelekatan yang aneh antara aku dan Abah. Di satu sisi aku tidak merasa begitu dekatnya karena jelas aku hanya bersamanya selama lima tahun. Tapi di sisi lain, ada anak lima tahun yang sedih, yang bersemayam di dalam diriku. Yang baru beberapa tahun terakhir, aku bisa membersamai sedihnya.Dan itu progress yang melegakan. Aku tidak lagi mencoba mengenyahkan sesuatu yang memang bagian dari diriku. Perasaan sedih itu adalah penanda hubunganku yang sesaat itu dengan Abah.

Dari kepergian Abah, aku belajar memaknai ketidakbermaknaan.
Dari “untuk apa hidup ” menjadi “merayakan hidup.”
Dari “aku tidak dicintai” menjadi “hidupku penuh cinta.”
Dari “mengapa harus terjadi” menjadi “ini semua memang perlu terjadi” (untukku belajar).
Dari “lukaku adalah hidupku” menjadi “lukaku adalah bagian dari hidupku”.
Dari “aku membenci hidup” menjadi “aku mencintai hidup” lalu menjalaninya sepenuh hati dan sebagaimana adanya.

Apa yang paling aku takutkan? Perpisahan dan kematian. Cepat atau lambat itu semua akan terjadi. Semua itu di luar kontrol diriku. Akan ada kesedihan dan kepedihan luar biasa, aku tahu. Tapi aku juga pasti akan bisa melaluinya. Aku bukannya tidak takut lagi akan kedua hal itu, aku hanya sudah bisa melihatnya sebagai sebuah bagian kehidupan yang memang harus aku lalui. Lahir mati, temu pisah, adalah satu kesatuan yang tidak bisa untuk dipisahkan.

Ada satu titik di mana aku bersyukur pada Tuhan aku telah mengalami kehilangan sejak belia. Dulu aku berpikir bahwa anak sekecil itu rasanya memang belum saatnya mengalami kehilangan sebesar itu. Tapi kemudian aku belajar bahwa ini bukan tentang kecil besar, tua muda, karena setiap orang pasti akan melaluinya. Dan aku sekarang telah melaluinya dengan kesadaran akan luka itu, memahaminya, menyembuhkannya, adalah sebuah berkat yang luar biasa. Karena setelah luka itu, luka-luka setelahnya hanya terasa seperti sayatan kecil semata. Tetap perih, namun tidak begitu dalam.

Aku merasa aku sudah melewati badai terbesar dalam hidupku. Lalu sekarang, aku sedang menjalani sisa hidupku yang kupercaya sebagian besarnya adalah hari-hari yang cerah. Sedikit rintik dan hujan pasti akan tetap ada tapi aku telah punya tempat berteduh yang nyaman dengan secangkir minuman hangat di tanganku, dan segala sesuatu yang kubutuhkan untukku tetap merasa aman dan damai. Tempat itu tidak lain adalah diriku sendiri yang penuh kesadaran dalam melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh.

Aku tidak tahu hidup seperti apa yang akan datang kepadaku di masa mendatang. Tapi aku pikir aku punya segala sumber daya untuk menjalaninya dengan tetap penuh sukacita dan damai. Berbagai hal yang terjadi di masa lalu telah banyak memberiku kebijaksanaan.



Leave a comment