28 Mei kemarin, setelah acara karnaval atletik di sekolah, setelah seharian terjemur di bawah terik, dalam riuh dan kerumunan orang-orang, aku memutuskan mengiyakan ajakan bercengkerama bersama kolegaku. Terdengar sederhana, namun itu bukan suatu keputusan yang mudah. Setelah lelahku yang luar biasa, aku seolah menambah lelah lagi. Tapi nyatanya aku tidak apa-apa. Setelah sampai di kos, aku langsung mandi, merebahkan diri di kasur, dan mulai berkelana dalam pikiranku sendiri.
Ada pertanyaan yang kemudian muncul dalam pikiranku, “Apakah aku mulai menjadi people pleasure?” Karena ketika mengiyakan ajakan itu, aku ingat nasihat Andrea, “Jika kamu diundang, usahakan datang meskipun nanti misal pulang duluan.” Sebelum-sebelumnya aku sering diajak juga tapi aku banyak menolaknya.
Berbeda dengan ketika menolak, yang mana aku tanpa berpikir panjang dan penuh keteguhan hati, ajakan kemarin menimbulkan keraguan. Aku seperti ingin belajar keluar dari zona nyamanku. Orang-orang yang mengajakku juga asyik dan aku sering bercengkerama juga ketika di sekolah karena kami satu departemen. Ditambah lagi, tempat bercengkeramanya adalah di toko gelato favoritku. Dengan pertimbangan-pertimbangan itu lah aku kemudian rela untuk mengeluarkan energi mental lebih untuk bersosialisasi.
Mundur ke 24 Mei ketika aku ikut workshop psikologi yang sangat mencerahkan untukku yang memang suka tentang masalah kesehatan mental. Aku memutuskan ikut acara itu beberapa minggu sebelumnya, dengan kesadaran bahwa 24 Mei adalah waktu yang padat dengan jadwal menulis rapot. Tapi aku memilih untuk tetap mengikutinya. Aku punya keterampilan baru dalam mendampingi seseorang yang butuh pertolongan pertama dalam situasi krisis mental. Tidak perlu sesuatu yang besar seperti bencana alam, pannick attack, kecelakaan, dan hal fenomenal lainnnya.

Contoh kecil kemarin Ayam bercerita tentang dia yang gagal bimbingan thesis dan dia kecewa dengan hal itu. Meskipun sebelumnya aku sudah memiliki bakat pendengar yang baik, kali ini aku memiliki keterampilan menanggapi pertama kali situasi mental seseorang yang sedang down dan rapuh. Tapi bukan berarti aku tiba-tiba menjadi terapis yang bisa mengatasi semuanya. Semua ada porsinya masing-masing. Dan aku akan senang menjadi 70%-80% untuk kehidupan orang-orang di sekitarku yang aku sayangi.


Mengambil keputusan untuk mengikuti workshop sudah membuatku bangga akan diriku sendiri. Ditambah lagi banyak hal baru yang kupelajari terutama ilmu tentang menolong orang. Aku sungguh suka diriku yang banyak belajar. Aku sangat bersyukur juga mendapat banyak kesempatan untuk belajar hal baru. Kupikir ini awal yang bagus untuk aku bisa mengikuti berbagai kegiatan lain yang menyenangkan untuk mengisi waktu akhir pekan.
Lalu hal baru yang paling kusuka, yang sebetulnya tidak begitu baru adalah … aku mulai jalan kaki lagi!!! Aku sangat senang bisa memulainya lagi. Kali ini aku tepat mengikuti saran Sastradi, 30 menit di sekitar komplek saja. Ini sungguh memudahkanku, menghemat waktu, dan energiku. Waktu 30 menit yang biasa kuhabiskan dalam perjalananku ke Renon, kini bisa kugunakan untuk menyelesaikan jalan kaki. Meskipun aku perlu sangat berhati-hati karena banyak kendaraan dan juga cukup menjengkelkan terpapar asap knalpot, tapi aku suka betapa mudahnya proses jalan kaki keliling komplek ini. Tentu sesekali aku akan berjalan kaki di Renon jika memang aku menginginkannya. Untuk saat ini, jalan kaki keliling komplek sangat mudah dan ringan dilakukan. Bahkan tadi setelah aku workshop seharian, aku merasa sedikit lelah, tapi aku tetap merasa ingin jalan kaki.
Demikian hal-hal baru yang kulakukan dalam satu bulan ini. Sangat menakjubkan! Aku suka sekali diriku yang berproses dan berprogress. Selamat, diriku, sudah mencoba hal baru!

Leave a comment