Sesuatu yang tidak aku tahu (III) – kebohongan

28 Maret 2025

“Sesuatu yang tidak aku tahu” kadang menjelma jadi pikiran yang berbohong. Seperti senja hari ini, dia berbohong bahwa aku tidak memiliki siapa-siapa. Sementara aku memiliki semua orang yang kubutuhkan di dalam hiduku. Lalu, meskipun aku memanggil kenyataan-kenyataan itu untuk kuproses di kepalaku, masih saja aku seolah terperdaya akan pikiran itu.

Orang-orang di lingkaran kehidupanku tidaklah banyak. Tapi aku tahu mereka sangat menyayangiku dan memaknaiku. Dari keluarga, teman dekat, bahkan beberapa waktu terakhir aku cukup merasa terkoneksi dengan salah satu rekan kerjaku. Kami sebaya dan memiliki cerita hidup yang berbeda, namun agak serupa.

Ibuku.
Saudara-saudaraku bilang bahwa aku adalah anak kesayangannya. Aku menyangkalnya tapi di hati kecilku aku bisa merasa itu. Dia berbicara lembut dan manis padaku, tidak semanis dan selembut seperti dengan kedua saudaraku. Dia bercerita denganku lebih banyak daripada dengan saudaraku. Dia sangat religius tapi menerima perubahanku yang menjauhi apa yang diajarkannya. Dia bukan ibu yang sempurna tapi aku bisa merasakan cintanya yang mendalam.

Ayah tiriku.
Dia salah satu laki-laki paling baik yang pernah kutemui. Dia memiliki ceritanya, kekurangannya, tapi dia sosok ayah tiri yang sempurna. Aku dekat dengannya sejak masih kecil. Bahkan ibuku berkata bahwa aku jauh lebih dekat dengannya daripada dengan ayah kandungku sendiri. Aku bisa mengingat potongan memori-memori baik dengannya ketika aku masih kecil. Dia yang menyekolahkanku hingga sarjana sementara anak-anak kandungnya hanya bersekolah sampai SMA. Aku percaya, di beberapa hal dia bisa mengisi kekosongan atas ke-alpa-an ayah kandung yang telah berpulang. Meskipun kami tidak banyak bercakap setelah aku dewasa, aku bisa merasakan cintanya.

Saudara-saudaraku.
Aku memiliki kakak yang penyayang dengan caranya sendiri. Selalu memastikan segalanya baik-baik saja, memastikan segalanya mendapatkan yang terbaik. Dia sangat dermawan dan kami selalu berlomba dalam memberi. Dalam sifat controlling dan marah-marahnya, aku bisa merasakan cintanya.
Aku juga memiliki adik – yang masih dalam perjalanan mencari jati diri – yang tentu membutuhkanku. Dia salah satu orang yang membuatku merasa berguna. Di dalam keluargaku, dia tahu ceritaku paling banyak. Di depannya, aku bisa menjadi badut dan melucu sesuka hati. Dia keras kepala dan juga suka marah-marah. Dia masih belajar caranya menjadi seorang yang lebih dewasa. Aku punya banyak memori baik bersamanya. Dia mengingat hal-hal manis yang kami lakukan bersama di masa lalu ketika dia masih kecil dan kami masih serumah. Dari caranya bercerita, aku tahu dia mencintaiku.

Sahabatku, Ayam.
Kami berteman sejak 2018. Kami saling menyaksikan dan menjadi bagian bagaimana masing-masing dari kami tumbuh jadi individu yang semakin dewasa. Ada banyak lika-liku di pertemanan kami, tapi itu malah menjadi pengikat yang erat dalam hubungan kami. Ketika beberapa teman dekatku yang lain menghakimiku dan bahkan aku merasa mereka tidak bisa menerimaku sebagaimana apadanya aku, Ayam ada di sisiku menerima pikiran-pikiranku, memegang tanganku erat jadi aku tidak banyak terseret jauh di sisi gelap pikiranku. Ayam memaknaiku cukup dalam, dia sering mengungkapkannya. Sebagai teman, aku tahu dia menyayangiku.

Dan beberapa orang-orang baik lainnya yang tidak bisa kurinci satu demi satu.
Beberapa orang yang memperhatikanku, mengecek keadaanku, membantuku untuk hal-hal praktis sehari-hari. Beberapa orang yang kami saling berbagi waktu meskipun hanya di tempat kerja. Beberapa yang berbagi cerita sekadarnya tapi juga bermakna. Aku bisa merasakan kasih sayang dari mereka.

Detik ini, jika aku menghubungi mereka dan mengungkapkan apa yang kurasakan, aku yakin beribu persen mereka akan sangat responsif dan mencoba meredam kekalutanku. Tapi di pikiranku yang lain, aku merasa aku tidak memiliki siapa-siapa. Sudah kutulis list dengan penjabaran sedemikian panjang, tapi rasanya tetap berat dan menyesakkan. Demikian “sesuatu yang tidak aku tahu” itu membohongiku.

Tapi aku bersyukur karena setidaknya aku sadar bahwa pikiran burukku hanyalah sekadar kebohongan. Bukan berarti dengan kesadaran ini aku bisa terhindar dari rasa sakit. Lagipula, aku sudah tidak lagi menghindari sakit. Hidup bukanlah tentang bersinar binar setiap harinya. Aku mengizinkan berbagai perasaan untuk memperkaya pengalamanku untuk memprosesnya. Aku bangga pada diriku sendiri yang sekarang banyak dipenuhi kesadaran.

I’m lovable. The amount of loves that Universe provides for me are beyond infiity.



Leave a comment