Huru-hara tiga hari

28 Maret 2025

25 Maret 2025
Siang hari di sekolah aku baru menyadari bahwa jadwal kontrolku, besok 26 Maret, bersamaan dengan acara buka bersama di sekolah. Tentu ini bukan sesuatu yang mudah bagiku karena aku tidak suka sesuatu yang tergesa-gesa. Aku putuskan untuk reservasi hari ini dan bisa. Perasaanku lega meskipun pasti mendapat nomor paling akhir, tapi setidaknya aku bisa kontrol hari ini jadi besok hanya fokus di acara buka bersama.
Pulang sekolah, aku mampir dulu di supermarket. Karena nomor reservasiku belakangan, aku memutuskan untuk bersantai sejenak sambil mengamati linimasa di media sosial. Sejak beberapa bulan terkahir, berita yang nampak adalah demonstrasi di mana-mana akibat tindakan pemerintah yang juga sedikit banyak membuatku geram. Seumur hidupku, baru kali aku merasa simpati dengan apa yang terjadi tentang negara. Berita-berita tersebut membuatku anxious. Melihat orang-orang turun ke jalan aku juga sangat bersimpati dan juga kagum dengan mereka.
Pukul 18.00 aku memesan Grab. Aku merasa lebih lelah di minggu terakhir sekolah. Sampai di rumah sakit, aku perlu antre manual karena reservasiku pasti tidak bisa terbaca di registrasi sistem mandiri sebab tanggal yang tertera di kartu berobatku adalah 26 Maret. Sekitar 45 menit aku menunggu di pendaftaran. Lalu ketika namaku dipanggil, terjadi masalah.
Aku tidak bisa melakukan sesi terapi hari ini karena di sistem jadwalku sudah tercantum tanggal 26. Sebelumnya, aku tidak menemukan masalah seperti ini. “Peraturan baru BPJS sekarang lebih ketat,” demikian kata petugas registrasi. Dia juga menunjukkan komputernya di depan mataku karena aku banyak bertanya. Tapi aku tidak bisa marah atau apapun itu karena dia juga hanya menjalankan tugas. Dia tidak bisa mengubah sistem.
Sebelum memesan Grab untuk pulang, aku memberi tahu salah satu rekan kerjaku bahwa kemungkinan besok di acara buka bersama aku terlambat. Antrean dokter jiwa sungguh tidak bisa diprediksi tapi aku akan berusaha datang seawal mungkin. Setelah itu, aku pulang dengan perasaan kecewa dan juga lelah karena sudah mengantre lama. Lelah itu membuat pikiranku kacau dan tidak nyaman.

26 Maret 2025
Bangun di pagi hari, aku langsung mengirim pesan kepada wakil kepala sekolah untuk izin pulang pukul 14.40. Aku ingin datang awal untuk terapi jadi aku bisa pulang lebih cepat untuk buka puasa.
Membayangkan betapa banyak hal yang harus kulakukan hari ini, membuat pikiranku kelimpungan. Ada perasaan tidak suka dan aku ingin men-skip hari ini begitu saja. Akhir-akhir ini aku sedang tidak semangat terapi. Buka bersama juga pasti akan jadi acara yang melelahkan karena harus bertemu dengan orang banyak sementara seharian aku juga sudah bergelut dengan banyak orang: di kelas dan di rumah sakit.
Tapi hari tetap berjalan dan aku perlu melakukan hal-hal yang tidak sepenuhnya ingin kulakukan. Aku membutuhkan obat untuk cadangan sepuluh hari ke depan aku mudik ke Jawa. Bahkan untuk tiga minggu karena aku datang lagi ke Bali hari Kamis yang mana itu sudah lewat praktik dokter. Aku juga perlu datang di buka bersama sebagai bagian dari komunitas sosial.
Pukul 15.00 tepat aku sampai di rumah sakit. Dokter belum datang ketika itu jadi aku dan pasien-pasien lain menunggu. Sebelum aku datang, sudah banyak berderet pasien Sastradi. Aku hanya berdoa semoga sebelum pukul 17.00, aku sudah selesai dari urusan rumah sakit ini. Aku tidak tahu kapan Sastradi datang karena aku tertidur. beberapa orang yang mengantre juga sudah tidak ada. Aku menunggu namaku dipanggil sambil tetap sesekali tidak bisa membuka mata. Tapi doaku jadi nyata, pukul 16.15, aku dipanggil. Lima belas menit kemudian, aku sudah selesai dan pulang setelah menaruh berkas obat di apotek untuk aku ambil di hari esoknya (butuh waktu dua jam untuk meracik obat BPJS).
Belum sampai pukul lima aku sudah sampai kos. Aku segera mengurusi baju-baju mana yang akan aku antar ke binatu. Sampai di sini tenagaku rasanya sudah mau habis dan sekilas aku ingin tidak pergi ke acara buka bersama. Tapi aku harus tetap pergi.
Kurebahkan tubuhku sambil bermain game. Aku menunggu hingga pukul 18.00 baru aku akan bersiap. Aku ingin melewatkan bagain pertama acara buka bersama karena bagian itu sangat islami, kurang cocok untuk aku yang sudah bergeser keyakinannya. Aku senang ada jeda untukku dan bisa merebahkan tubuh sejenak. Di saat itu, aku ingin menangis. Tapi tidak jadi.
Tepat sekitar 18.45 aku sampai di sekolah. Ini adalah acara buka bersama terbesar selama aku bekerja di sini. Ada ratusan orang datang hingga makanannya agak kurang. Salah satu menu buka bersama, selain berbagai camilan dan makanan manis, adalah sapi lada hitam dan aku suka sekali itu. Rasanya sangat enak membuatku sejenak lupa akan segala gerutuku yang sedari kemarin mengendap di pikiran.
Acaranya sangat lama karena harus online meeting dengan Jakarta untuk pembagian doorprize sementara terdapat perbedaan waktu satu jam. Sambil menunggu, aku terus menggerutu di kepalaku. Barulah pukul 20.45 aku sampai di kos. Aku langsung mandi dan bersih-bersih. Ini hari yang sangat panjang, aku sangat lelah.

27 Maret 2025
Aku pikir hari ini aku bisa sedikit bersantai tapi nyatanya tidak. Aku harus mengambil obat dan juga belanja untuk Nyepi. Bukan sesuatu yang sulit. Namun, mengingat dua hari kemarin yang cukup melelahkan, dua hal itu rasanya juga berat. Tapi tidak apa-apa. Belanja untuk Nyepi di hari ini akan sangat membantuku di esok hari. Bahan makanan segar atau camilan-camilan dengan masa kadaluwarsa yang beberapa hari, mungkin besok tidak akan sebanyak hari ini. Belum lagi untuk antrean di kasir, bisa panjang mengular serupa dari Seminyak ke Legian.
Sepulang belanja, aku menaruh barang-barangku di kos sebelum aku pergi ke rumah sakit untuk mengambil obat. Ketika aku ke kamar mandi untuk buang air kecil, di sana aku menemukan kejutan: satu ember cucian! Betul bahwa aku sudah memakai jasa binatu untuk urusan baju-bajuku. Tapi tetap ada baju yang harus kucuci sendiri. Hanya enam lembar dan beberapa pakaian dalam. Namun untuk aku yang tidak terlalu passionate dalam urusan pekerjaan rumah, itu cukup berat. Belum lagi beberapa hari terakhir yang sudah cukup menguras tenaga. Belum lagi hari ini juga adalah jadwal keramas yang mana itu juga memakan waktu yang cukup lama dan langkah yang tidak hanya satu dua. Rasanya aku ingin berteriak.

Tiga hari terakhir yang jungkir balik itu adalah bahan bakar yang tepat untuk rasa anxious-ku ketika lebaran nanti. Aku pasti belum benar-benar pulih karena di hari Minggu aku akan mudik. Lalu di hari Senin, aku akan bergumul dengan banyak orang karena itu Idul Fitri. Aku tidak membenci segala hal itu. Aku juga senang nantinya bisa bertemu orang-orang terdekatku. Tapi rasanya di dalam pikiranku penuh sekali. Namun aku bersyukur, ada Nyepi di hari Sabtu. Aku akan menghabiskan seharian itu untuk tidur, tidur, dan tidur. Jumat ini juga bisa pulang lebih awal. Aku hanya akan puasa setengah hari, membeli makan siang untuk asupan melihat parade Ogoh-ogoh (jika tidak malas), dan membeli es kopi. Oh, aku rindu es kopi karena hampir sebulan ini aku tidak merasainya.

Satu tulisan panjang yang sangat membantuku mengendurkan syaraf-syaraf dari lelahku beberapa hari terakhir ini. Aku senang sekali bisa menulis.



Leave a comment