23 Maret 2025
“Pindah ke tempat baru dengan orang-orang yang benar-benar baru” adalah aku. Aku juga tidak pernah menyangka akan memiliki perjalanan seperti ini. Hidupku tidak banyak diiringi rencana jadi aku menjalaninya secara spontan saja. Pilihan yang kuambil di akhir 2018 membawaku pada fase sendiri yang penuh liku, menyenangkan, tapi tentu saja ada bagian yang menyedihkan.
Sejak kepindahanku awal 2019, aku tidak benar-benar membangun koneksi mendalam dengan orang-orang di sekitarku. Hubunganku dengan kolega sekadarnya saja, hanya di tempat kerja aku berkomunikasi dengan mereka. Ada seorang wanita paruh baya yang mengadopsiku menjadi temannya. Tapi itu tidak berlangsung lama karena 2021 dia kembali ke Australia. Aku juga tidak membangun hubungan romantis di sini. Pernah sekali aku dekat dengan seseorang tapi itu tidak berlangsung lama, hanya beberapa bulan.
Berbicara tentang romansa, 2018 adalah terakhir kali aku berkomitmen dengan seseorang. Ada seseorang yang kusukai setelah itu tentu saja, tapi kami hanya berakhir sebagai teman. Tuna asmaraku jelas disebabkan aku yang kurang membuka diri. Di masa lalu aku juga berkenalan dengan beberapa orang di dating app, tapi itu tidak bergerak ke mana-mana karena aku sering menghilang ketika lanjut di tahap pertemuan.
Sejujurnya aku tidak tahu, mengapa aku lebih memilih berkutat dalam sendiri.
Kabar baiknya adalah aku menjadi seorang yang mandiri. Aku banyak belajar bagaimana cara membahagiakanku sendiri tanpa banyak bergantung dengan orang lain. Ini ternyata keterampilan yang sangat berguna (bagiku) dalam menjalani hidup. Aku sangat content dan fulfill hanya dengan diriku. Tapi tentu saja ini bukan keterampilan yang kupelajari dalam semalam. Hingga hari ini pun aku masih terus belajar. Terus belajar dari yang “aku tidak membuthkan siapa-siapa” sampai “aku membutuhkan mereka.” Sebagai makhluk sosial, kebutuhan koneksi yang bermakna aku sandarkan pada keluarga, teman dekat, kolega, dan tentu saja murid-muridku. Aku memiliki citra positif bahwa aku bermakna untuk mereka.
Seorang pernah bertanya padaku, “Apakah kamu tidak kesepian?”
Tentu aku bisa merasa kesepian namun aku lupa seberapa sering frekuensi kesepian itu. Pikiranku banyak berkelana ke mana saja dan aku suka sepi. Sebagai perbandingan, aku bisa merasa stress setelah dua minggu berada di rumah orang tua. Aku membutuhkan itu, namun aku lebih banyak membutuhkan waktu untukku sendiri.
Ini adalah tahun keenam-ku di kota yang (sudah tidak lagi) baru. Tidak ada romansa dan aku membangun koneksi seadanya. Tidak ada perasaan merana sebegitunya. Aku menikmati pergi-pergiku ke cafe, restoran, bioskop, pantai, rumah sakit, dan ke mana saja hanya dengan diriku sendiri. Mungkin ada hal yang tidak kusadari berdampak negatif ke aspek tertentu di dalam diriku. Namun, selagi aku bisa melewati hari-hari dengan baik dan menikmati present moment sebagaimana adanya, kupikir aku telah berhasil dalam menjalani hidupku yang luar biasa ini.

Leave a comment