20 Januari 2023
“Begini ya rasanya mencintai seseorang. Ingin bersamanya, ingin menyentuh tubuhnya,” kata Ayam dengan gelisah sambil memegang hp-nya. Aku terdiam karena radang tenggorokanku tidak mengizinkan aku bicara. Aku cemburu meskipun aku hanya temannya. Ini adalah malam terakhir dan kita tidak akan bertemu lagi. Aku di depannya malam ini bukan permintaanku, dia yang mengajak bertemu. Tapi teman dekatku selama hampir satu tahun ini menggelisahkan selingkuhannya. Di dalam kepalaku aku menggumam, bagaimana ya rasanya dicintai Ayam?
Selama beberapa tahun berlalu, pertanyaan itu seperti bola salju. Karena satu, dua, tiga, dan banyak hal, aku semakin memiliki kemelekatan dengan Ayam. Tapi aku tidak suka membiarkan diriku menderita begitu lama dalam romansa. Pertanyaan bagaimana rasanya dicintai Ayam mengudara begitu saja bersamaan dengan pikiranku yang lebih waras.
Hingga di sebuah siang yang mendung dan terasa muram ini ketika aku sedang membaca kisah persahabatan Willem dan Jude. Menyaksikan dalam kata dan merenungi bagaimana Willem mencintai Jude. Aku mengingat lagi pertanyaan yang sudah kukubur dalam-dalam itu. Aku mengingat aku pernah mencintai Ayam sedemikian dalam. Selama periode aku mencintainya, dia tidak pernah membalas perasaanku. “Kamu adalah teman spesial,” kilahnya (atau mungkin manipulasinya).
Ada romantisme yang muncul bersamaan dengan pertanyaan itu. Akan tetapi, romantisme itu tidak menguasai diriku. Dia datang sebagai bagian lain yang bisa kuamati. Meskipun demikian, aku tetap bisa meromantisasinya karena ingatan rasa masa lalu terhadap Ayam bukanlah hal yang bisa bim salabim aku hilangkan begitu saja. Tidak akan pernah bisa.
Pernah sekali di masa lalu aku memiliki cinta yang juga bertepuk sebelah tangan. Bedanya, seseorang itu membatasi diri. Kami tidak berkomunikasi secara konsisten. Tentu saja aku tidak berani mengajaknya pergi-pergi tamasya seperti ketika aku mengajak Ayam. Aku berani mengajak Ayam karena dia pertama kali yang mengajakku bermalam di Jogja (yang seharusnya aku tolak). Aku jadi kecanduan menghabiskan waktu dengannya. Dia selalu mengiyakan dan membawaku ke tempat-tempat yang bagus, memotretku dengan estetik dan aku suka foto-foto. Kami juga selalu mengobrol berjam-jam. Aku menelpon Ayam, dia menelponku. Ayam tidak pernah memberi batasan yang jelas. Aku juga tidak membatasi diri dengan tegas. Jadilah aku tersesat dalam hubungan yang rancu. Aku sering berpikir bahwa aku hanyalah pelipur sepinya. Namun, aku juga tidak lupa bahwa di masa lalu mungkin aku juga kesepian. Ayam tidak pernah bosan menertawakan pertanyaanku yang lusinan kali, kamu mau berteman dengaku karena kamu kasihan aku sakit, kan? Upayaku membuatnya pergi berhasil satu kali. Tapi kemudian kami lanjut berteman lagi.
Pertemananku dengan Ayam, percakapan kami, seperti tanpa aling-aling. Isi kepala dan juga mulut kami sama-sama bertelanjang ketika sudah berghibah. Aku mendengar tidak hanya pemikiran-pemikirannya yang aneh dan dalam, mimpi-mimpinya, keresahan-keresahannya, ocehan randomnya tentang burung rangkong dan rasa pilunya terhadap ilmuwan bernama William Mendell. Aku mendengar masa lalunya, bagaimana tanpa dosanya dia merangkul, menggandeng, mencububit hidung perempuan-perempuan yang bukan pasangannya. Aku mendengar, menyaksikan, (dan menjadi bagian) cerita perselingkuhannya. Aku mendengar kisah masa kecilnya yang dia utarakan sebagai lelucon tentang verbal abuse yang dia terima oleh ibunya, perundungan oleh teman-temannya. Aku mendengar banyak cerita ringan bagaimana hari-harinya berjalan, orang-orang di sekitarnya, kegembiraan dan kelelahannya (dia tidak pernah menunjukkan sedih).
“Kamu teman bercakap terbaikku,” ucapnya puluhan kali. Tapi tetap, dia tidak mencintaiku.
Sebenarnya aku bisa merasakan kasih Ayam yang besar sebagai seorang teman. Namun entah bagaimana, di masa lalu itu terasa tidak cukup. Dia mendengarku paling baik di antara teman-temanku yang lain. Dia ada ketika aku membutuhkannya. Dia mendengar tangis terdalamku dan membuatku tertawa terbahak-bahak setelah aku menyeka air mata. Segala hal yang kudengar darinya, sama pula seperti yang dia dengar dariku, versi hidupku.
Aku mengingat Jude dan Willem lagi, yang mana setelah persahabatan yang dekat dan panjang, mereka menjadi sepasang kekasih. Tapi sekarang rasanya sudah terlambat untuk bisa merasakan romansa dengan Ayam. Di samping dia juga tidak mencintaiku, semakin ke sini, aku melihat kemampuannya dalam mencintai memudar. Dia semakin berjarak dengan perasaannya dan dia bangga akan hal itu. “Perasaan adalah sumber ketidakstabilan,” ujarnya.
“Seiring bertambahnya usia, kamu menyadari bahwa kualitas yang kamu cari pada orang yang tidur denganmu atau berkencan dengamu belum tentu ada pada orang yang ingin kamu ajak hidup bersama atau menjalani hari-hari bersama. Jika kamu cerdas dan beruntung, kamu mempelajari ini dan menerimanya. Kamu menemukan apa yang paling penting bagimu dan kamu mencarinya. Kita semua memilih itu semua dengan berbeda-beda: Roman memilih kecantikan dan kelemah-lembutan; Malcolm telah memilih kecerdasan dan keterampilan (Sophie sangat efisien), dan kecocokan dalam hal estetik. Dan dia? Dia telah memilih persahabatan, percakapan, kebaikan, kecerdasan.”
– A Little Life
Aku tidak tahu apa yang Ayam cari dan apakah dia juga mencari (sepertinya tidak). Di masa lalu aku berharap Ayam seperti Willem, memilih persahabatan, percakapan, kebaikan, dan kecerdasan karena aku memiliki semua itu. Tapi jika aku yang sekarang berada di masa lalu, mungkin aku tidak akan menerima begitu saja meskipun mungkin aku akan merasa bahagia. Aku akan memilih romansa (dan materi, tentu saja).
Ayam sudah jauh dari romansa. Aku meragukan kapabilitasnya dalam mencintai. Pertanyaan tentang bagaimana rasanya dicintai Ayam rasanya juga sudah terjawab. Selain memudar karena waktu dan pikiranku yang makin dewasa, juga karena aku tahu cinta-cinta bukan bagian dari diri Ayam lagi. Sama seperti aku bertanya, bagaimana rasanya mangga sementara mangga itu sudah tidak ada lagi untuk dirasai.

Leave a comment