“Ini hari yang panjang jadi aku ingin bicara panjang (dan acak).”

Intro

  • Aku menghabiskan tiga jam umurku mengantre di klinik jiwa. Tapi tidak apa-apa. Aku tidak membenci itu, hanya saja kurang menyukainya. Untung saja otakku sangat lihai dalam mencari sesuatu untuk membunuh waktu jadi tidak sebagaimana merasa bosan. Hanya lelah dan ingin segera pulang.
  • Aku menggerutu karena di hari gelap aku belum jua merapat di kos. Tapi lalu aku menikmati lampu-lampu kota yang aku suka. Bergumam pada diri sendiri, “Di hari gelap ini, aku sudah berangkat pulang sementara Mang Ojol masih bekerja mengantarku pulang.” Aku mensyukuri hariku.
  • Mungkin saja mengetik segala ini hanyalah alasan karena aku malas mengeringkan rambut. Atau karena kemarin Ayam memuji tulisanku bagus jadi aku tergerak ingin menulis tentang hari ini. Ngomong-ngomong, ini bukan sekali Ayam memuji hal yang bagus tentang diriku. Dan aku suka itu. Aku tidak gila pujian tapi pujian membuat hatiku merasa senang.
  • Aku sudah menyiapkan tamasyaku di liburan kali ini. Tamasya yang pasti akan jadi ide yang bagus untuk diajadikan tulisan yang penuh petualangan dan makna mendalam. Apakah aku harus membawa buku diary? Aku bisa saja mengetiknya dari ponsel tapi sepertinya menulis di diary di sepuluh hari berturut-turut akan jadi tantangan yang menyenangkan. Baiklah, aku akan menambahkan diary ke list barang bawaan dan segera mengepaknya.

Inti

Jadi, apakah aku akan membuat tulisan dengan satu topik yang runut? Sepertinya tidak karena isi di kepalaku juga acak-acakan. Tapi aku ingin menulis tentang bagaimana hariku bermula hingga pada akhirnya sampai pada duduk tenang tapi penuh keacakan ini.

Aku bangun pukul 6.40. Lebih pagi daripada hari-hari lainnya karena ada rapat pagi di sekolah. Aku suka berjalan dengan lambat memasuki ruangan staf jadi tidak menjadi pusat perhatian seperti jika aku berjalan tergesa karena sudah terlambat. Rapat Senin pagi berisi apa-apa saja yang akan terjadi minggu ini di sekolah. Tidak lama, rekapan itu hanya berlangsung sekitar 10-15 menit. Primadona pagi ini tentu saja adalah ini minggu terakhir bekerja karena dua minggu ke depan adalah liburan termin ketiga.

Aku punya dua kelas saja di Senin, enam dan lima. Kelas enam telah kurencanakan untuk melanjutkan topik pidato bertema lingkungan dari minggu lalu. Tapi beberapa anak mengeluh karena ini adalah kelas bahasa Indonesia terakhir mereka di termin tiga. Mereka ingin bermain Kahoot saja dan aku mengiayakan itu. Sepertinya aku juga sudah mulai malas mengajar. Mereka bersemangat ketika mendapatkan jawaban yang tepat. Mereka berteriak dan menari. Kelasku jadi ramai sekali.

Kelas lima, yang melihat layar monitorku adalah Kahoot, iri. Mereka juga ingin bermain tapi kubilang ini bukan hari terakhir. Mereka menurut dan mengerjakan membaca brosur serta huruf kapital. Cukup membosankan. Sangat kontras dengan kelas sebelumnya.

Aku mengoreksi di jam pelajaran kosong berikutnya dan mengisi pelajaran lain karena guru aslinya absen.

Hari di sekolah diakhiri dengan rapat lagi. Kali ini membahas tentang apa-apa yang diagendakan di termin ke empat. Cukup memberi beberapa clue agenda-agenda yang penting, yang bisa dipastikan aku akan lupa lagi. Tapi segala agenda itu telah disusun rapi oleh ketua, jadi jika lupa, ya aku tinggal melihat dokumennya saja.

Aku langsung meluncur ke rumah sakit untuk psikoterapi seperti yang sudah dijadwalkan sekali dua minggu. Jadwa aslinya adalah Rabu tapi karena Rabu tanggal merah, pertemuan ini dipindah ke Senin. Aku bicara ke dr. Sas tentang keinginanku untuk mulai melepas obat-obatan karena berat badanku yang naik cukup signifikan. Ditanggapinya dengan ceramah panjang yang kurang lebih bunyinya seperti ini:
“Setiap obat dan bahkan vitamin, semuanya memiliki efek sampingan di dalam tubuh. Sekarang saya tanya; ‘Apakah tidur kamu baik? Apakah kamu bermimpi buruk? Bagaimana rasanya ketika bangun pagi? Bagaimana kamu menjalani hari-hari?’ Itu sekarang yang kita jaga. Obat itu membantumu membuat trek yang baru di dalam kepala yang tidak bisa kita lihat jadi kamu bisa menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya tanpa banyak tenggelam lagi dengan masa lalu, perasaan-perasaan yang berat. Kamu sekarang sudah bagus, jalani dulu yang bagus, jangan mencari-cari masalah baru.”

Aku pun merasa bagaimana hari-hariku berjalan dengan mulus karena ditopang obat-obatan antidepresan itu. Mungkin karena terlampau mulus, jadi aku mencari-cari masalah sendiri.

Demikian adegan hidupku sampai kemudian otakku runyam sendiri seperti yang kutuliskan di intro. Aku hanya kelelahan. Ini hari yang panjang jadi aku ingin bicara panjang (dan acak).

Akhir
Rambutku yang basah sudah setengah kering. Aku tetap perlu mengeringkannya memakai mesin pengering. Ini pukul 22.40. Setelah mengeringkan rambutku, aku akan segera beranjak tidur.



Leave a comment