Aku tidak merasa bersalah ataupun menyesal untuk apa yang terjadi selama empat tahun terakhir ini. Aku tidak merasa telah meninggalkanmu atau apapun itu. Aku malah bersyukur melewati proses itu semua. Aku telah meninggalkan ritual lima waktu dan mengubahnya menjadi “jeda” lima waktu. Aku melakukannya bukan lagi karena aku terpaksa, takut dosa, atau masuk neraka, bukan karena itu semua. Aku melakukannya karena di sanalah aku bisa merasakan napasku, merasakan gerakan tubuhku, mengistirahatkan pikiranku.
Aku tidak percaya surga dan neraka. Aku tidak percaya hidup kekal abadi dengan iming-iming kepuasan nafsu pancaindera duniawi. Lagipula, aku tidak memburu itu semua. Aku melakukan hal-hal baik karena aku jiwa yang baik. Bukan untuk segala hadiah yang tidak masuk akal itu.
Untuk apa aku susah payah membayangkan surga dan menunggunya sampai mati? Aku bisa merasa surga dari pagi hari di akhir pekan ketika aku bisa lebih lama tiduran dan bermalas-malasan. Bercengkerama dengan orang-orang terkasih, orang-orang baik, adalah surga untukku. Bisa merasakan kelezatan makanan, bisa tidur pulas, aku merasa surga di sana. Kebebasanku, keberlimpahanku, juga surga untukku. Dan banyak surga-surga lainnya, yang bisa jadi sangat panjang jika kusebutkan satu persatu. Kamu memberiku banyak surga di saat ini.
Aku bisa merasa neraka di masa kecilku. Atau masa ketika aku sudah lebih sadar tentang luka, 2019-2021. Aku bersyukur atas neraka itu.
Benar kata mereka, “Lima waktu itu bukan untuk-Mu, tapi untuk diri kita sendiri.” Aku sudah tidak lagi melihat-Mu sebagai satu entitas yang gila disembah, penuh amarah, dan suka menghukum. Kamu adalah semesta yang penuh kasih.
Terima kasih telah memberiku jeda di lima waktu. Terima kasih, karena dari sana aku bisa beristirahat sejenak dari hiruk pikuk isi kepalaku. Kupikir lidah dan jariku tak akan pernah cukup untuk bersyukur pada-Mu, jadinya aku bersujud lagi. Kugerakkan seluruh tubuhku, mensyukuri segala apa yang Kau beri, sekaligus berpasrah diri.

Leave a comment