Relung

๐Ÿ‚ sejak 2018 ๐Ÿ‚


Aku dulu aku sekarang

It’s mesmerizing jika aku berefleksi lagi bagaimana perbedaanku dulu dan sekarang.

Aku baru saja membeli beberapa saset body lotion karena belakangan ini aku suka eksplorasi wewangian. Dari eksplorasi itu, aku menemukan diriku yang ternyata menyukai wangi citrus, bunga-bunga, dan sedikit buah-buahan. Wangi-wangi yang manis, warm, bold, aku kurang suka. Ketika aku mencari wangi baru, bukan berarti aku sudah tidak suka wangi yang sebelumnya kupakai. Namun, ada perasaan senang dalam mencoba berbagai wewangian itu. Sekarang aku punya empat parfum dan sedang menahan diri untuk tidak membeli parfum lagi ๐Ÿ˜† Aku tidak suka konsumerisme tapi di pikiranku yang lain “Kamu belum punya parfum yang SPL buas loh.” Seperti yang kutulis di awal, aku suka wangi citrus dan floral yang cenderung cepat menguap.

Ketika aku sedang sibuk dengan wewangian, sebagian pikiranku yang lain melaju ke masa lalu. Aku seperti berada di dalam matrix, melihat diriku sendiri yang jangankan punya parfum, bisa mandi teratur saja aku bersyukur. Sering aku bertanya-tanya, bagaimana bisa aku hidup dan bertahan dalam keadaan seperti itu?

Aku dulu ketika di akhir pekan, tidak melakukan apapun. Hanya berbaring dan tidak tahu entah pikiranku ke mana. Terakhir aku mandi, Jumat pagi. Lalu mandi berikutnya Minggu malam karena keesokan harinya aku harus bekerja. Pernah ketika covid dan pekerjaanku dilakukan secara daring, aku tidak mandi selama lima hari. Sekarang? Aku tidak bisa tidur tanpa mandi dan menyemprotkan parfum.

Aku dulu bahkan bisa untuk tidak mengganti sepreiku selama sebulan lebih. Atau mungkin bahkan hingga dua bulan, aku tidak menghitung. Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa hidup seperti itu. Aku ingat sekali setiap kali mencuci sprei, air cuciannya berwarna cokelat. Atau bahkan beberapa kali, kulitku sampai terasa gatal, baru aku bergegas mencucinya. Sekarang? Spreiku baru setiap minggu. Aku juga menyemprotkan wewangian di atasnya. Bahkan ketika spreiku kusut, aku sempat untuk merapikannya.

Aku dulu memiliki cucian piring menumpuk di wastafel selama beberapa hari, atau bahkan mingguan. Air yang menggenang di piring-piring itu keruh dan beberapa kali berjamur. Itu sangat kotor sekali dan menjijikkan. Aku tidak paham bagaimana bisa aku hidup dalam keadaan seperti itu. Kompor dan dinding dapurku juga berjamur. Aku beberapa kali memasak dan aku juga tidak paham bagaimana di masa lalu aku bisa makan yang dimasak dari tempat sekotor itu. Sekarang? Aku tidak bisa tidur ketika ada perabotan kotor di wastafel kecuali itu akhir pekan yang mana aku membiarkan diriku bermalas-malasan sedikit. Setiap selesai memasak, kompor dan dinding dapur selalu kubersihkan. Tidak hanya kulap, aku menyemprotkan cairan sabun. Aku menggosoknya dengan spons dan membilasnya sampai bersih.

Pernah juga dulu mungkin berbulan-bulan aku tidak mengepel lantai. Berminggu-minggu aku bisa mengumpulkan sampah di belakang pintu tanpa sama sekali aku berpikir untuk segera membuangnya. Sekarang pun aku bertanya-tanya, bagaimana bisa aku hidup seperti itu. Kadang berhari-hari tumpukan sampah hanya kuletakkan di samping tempat tidur.
Sekarang? Dalam sehari aku bisa membuang sampah sampai dua kali. Aku tidak suka berbagai ruang dengan hal-hal yang kotor dan juga tidak berguna terlalu lama.

Setelah melewati proses itu, setelah mengalami betapa sebenarnya aku memiliki keterampilan untuk merawat diri, aku merasa penuh kasih untuk diriku di masa lalu. Di masa lalu, masa di mana aku tidak punya kapabilitas untuk melakukan hal-hal yang kulakukan sekarang, aku banyak menghakimi diri. Aku mencaci diriku sendiri jorok, kotor, dan menjijikkan. Aku dulu merasa jijik dengan diriku sendiri yang mana sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu tidak sepenuhnya kesalahanku. Aku sadar bahwa aku adalah seorang dewasa yang pada lumrahnya tidak melakukan hal-hal seperti itu. Namun, bukankah ketika ada yang menyimpang dari hal lumrah, itu tandanya ada sesuatu yang tidak beres kan? Tapi aku juga sudah memaafkan diriku sendiri di masa lalu yang banyak membenci dan menghakimi diri sedemikian keras. Aku yang kotor adalah aku yang tidak punya kapabilitas untuk merawat diri meskipun tahu bahwa aku perlu untuk bersih. Aku yang sangat keras dan penuh penghakiman adalah aku yang tidak tahu dan belum memahami bagaimana cara untuk membantu diri sendiri.

Ak mengasihi diriku di masa lalu. Aku memaafkannya juga. Sekarang, aku seutuhnya dan sepenuhnya menyayangi diriku. Bisa jadi di masa depan aku bisa lebih baik daripada apa yang kujalani sekarang, aku juga tidak marah untuk diriku yang sekarang. Aku hanya bisa terus mencoba melakukan yang terbaik berdasarkan sumber daya dan pengetahuan yang kupunya saat ini.

Demi Tuhan! Aku menyukai diriku di segala level perkembangannya.



Leave a comment