Aku tinggal di Bali dan ini adalah tahun ke-enamku. Tinggal di Pulau Dewa-Dewi ini tidak pernah ada dalam rencana hidupku.
Kupikir memang aku tidak banyak merencanakan hidup. Jadi banyak sekali aku menjumpai momen terkejut.
Nyepi pertamaku adalah tahun 2018. Ketika itu aku masih menempuh pendidikan dan tinggal di asrama. Seperti kehidupan asrama pada umumnya, urusan makan sudah disediakan. Namun karena Nyepi, tukang masaknya libur tiga hari. Jadi selama tiga hari aku hanya makan roti dan mie. Temanku mengajak untuk masak bersama karena kami ada dapur umum. Tapi ketika itu aku bukanlah seseorang yang gemar bergaul. Hingga sekarang pun, aku hanya bergaul seperlunya.
Nyepi kedua aku sudah bekerja berpindah kota. Teman kerjaku menawarkan tempat untuk ikut Nyepi bersamanya. Mungkin dia merasa kasihan karena aku anak perantauan. Namun sebenarnya bukan masalah yang berarti juga jika aku memang harus Nyepi sendiri.
Nyepi ketiga, 2020, aku berada di kampung halaman di luar Bali karena korona.
Barulah di Nyepi ke-empat, aku merasakan Nyepi sendiri. Aku suka sekali Nyepi. Nyepi adalah waktu ketika semua orang dikondisikan untuk diam di rumah saja. Ketika Nyepi semua juga diwajibkan untuk menjaga kesunyian. Lampu dan internet juga dibatasi. Malam harinya, bintang akan nampak berpendar lebih terang (jika cuuaca tidak berawan) karena satu pulau diliputi kegelapan. Dan ini hanya terjadi di Bali. Aku sering membayangkan bagaimana jika peraturan Nyepi ini bisa dilakukan di seluruh Indonesia.
Aku suka Nyepi. Meskipun pikiranku mengawang ke segala penjuru tak tentu arah, tetap ada satu waktu di mana aku berefleksi juga. Keterbatasan akses internet (yang terasa membosankan), juga aku syukuri. Pengondisian seperti ini membuatku berdamai dalam ketidaknyamanan. Aku menulis ini pun karena kebosananku. Ini baru mendekati pukul 21.00, namun auranya seperti dini hari. Tapi tentu saja aku belum mengantuk sama sekali dan bahkan aku juga belum mandi. Internet tidak mati total selama 24 jam. Ada di waktu-waktu tertentu dia menyala, ada di waktu-waktu tertentu tidak ada jaringan. Namun hidupnya lebih sedikit daripada matinya.
Ogoh-ogoh
Parade ogoh-ogoh adalah satu rangkaian dengan Nyepi. Dulu, aku tidak begitu tertarik karena kerumunan bukanlah hal yang aku suka. Bahkan ketika Nyepi pertama, ketika satu asrama pergi untuk melihat ogoh-ogoh, aku diam di asrama. Nyepi kedua, karena aku menginap di rumah teman, aku ‘terpaksa’ untuk ikut serta melihat ogoh-ogoh. Aku masih ingat betul ketika itu aku hanya pusing dan terduduk lesu. Aku sama sekali tidak bisa berkompromi dengan kerumunan.
Barulah di tahun kelima, 2023, ada sepercik keinginan untuk menyaksikan ogoh-ogoh. Aku suka sekali karena ogoh-ogoh itu adalah karya seni yang sangat luar biasa. Aura ogoh-ogoh sangat berbeda dibandingkan jika hanya dilihat dari foto. Karena selain parade, ada juga atraksi-atraksi yang dilakukan. Ogoh-ogoh bisa berputar, menyala, mengeluarkan asap, dan lain sebagainya. Akan tetapi, kesukaanku melihat ogoh-ogoh, tidak berimbang dengan kondisi fisikku. Tahun lalu setelah aku berada di kerumunan lebih dari tiga jam, aku pusing dan muntah. Aku masih ingat rasanya seperti tidak menapak di bumi ketika berjalan menjauhi kerumunan. Aku bahkan tidak menyelesaikan paradenya. Masih banyak ogoh-ogoh yang belum lewat tapi aku tetap memilih pulang. Karena alsan itulah, tahun ini aku tidak melihat ogoh-ogoh. Aku merasa sedih karena itu adalah sesuatu yang aku suka. Tapi aku juga tidak mau memaksakan diri. Aku menerima bahwa aku belum mampu untuk biasa saja berada di kerumunan.

Leave a comment