Sesuatu yang tidak aku tahu (II)

Sastradi banyak mengingatkanku untuk kembali ke realita. Tapi kadang kala, realitaku buram seburam-buramnya. Aku tidak bisa melihat apapun. Yang nampak hanyalah perasaan-perasaanku, bahwa ini tidak akan ada akhirnya. Aku dan hidupku yang sangat baik ini, terkadang terasa hanya seperti mimpi. Aku dan ketiadaanku adalah yang paling nyata.

Sesuatu yang tidak aku tahu itu kadang berhasil menarik segala kenyataanku sehingga aku hanya merasa kosong. Dalam kekosongan yang membuat diriku sendiri bahkan kehilangan peduli akan eksistensiku. Aku berpikir, apakah orang lain peduli? Kadang aku bisa mengingat dengan baik wajah-wajah orang baik dalam hidupku ini. Namun kadang juga pikiran itu mengawang pada ‘Siapa peduli jika mereka peduli? Banyak hal lain yang mereka pedulikan selain keberadaanku.’

Aku seringkali tidak mengerti, bagaimana otak di dalam kepalaku ini bekerja sehingga ia melahirkan sesuatu yang tidak aku tahu itu, bagaimana ia bisa mengizinkan sesuatu yang tidak aku tahu itu menyakitiku, membuatku merasa tidak nyata. Pada salah satu titik yang lain, sesuatu yang tidak aku tahu itu menanamkan bahwa aku sedang berada pada simulasi penderitaan. Segala hal yang telah kucapai, segala progress, hanyalah ilusi untuk menuntunku merasa lebih menderita lagi. Ia menertawakanku bahwa aku pernah percaya hal-hal baik itu nyata.

Mengapa sesuatu yang tidak aku tahu itu kadang terasa lebih nyata daripada kenyataanku sendiri?



Leave a comment