Ayam

Pagi hari dimulai dengan alarm berulang yang cenderung tidak mempan. Karena pada akhirnya, aku bangun pukul 07.00 dan itu bagiku sudah cukup kesiangan. Idealnya aku beranjak 06.30 atau paling telat 06.45, tapi kali ini mataku benar-benar enggan terbuka. Aku juga tidak tahu mengapa.

Malam sebelumnya aku terbiasa menyiapkan bajuku, tidak tadi malam. Akhirnya aku kebingungan padahal hanya sekadar memilih baju. Aku sudah mengambil baju berwarna hitam namun aku ingat aku ada jadwal terapi di sore harinya. Aku tidak ingin mengendapkan segala energi yang ada di rumah sakit dengan berpakaian berwarna gelap. Jadinya aku perlu mengganti keputusanku dan itu membutuhkan waktu beberapa detik. Detik sangatlah berharga jika aku sudah kesiangan seperti tadi pagi.

Ketika bersiap diri dan bercermin, aku teringat adegan lucu tadi malam. Semalam aku memakai parfum yang mengingatkanku pada seseorang, sebut saja Ayam, dia teman lamaku. Sebenarnya pertemanan kami agak rumit jadi mengirim pesan padanya dalam waktu-waktu seperti ini terasa lucu. Aku mengirim pesan suara tentang parfum yang kupakai mirip dengan parfumnya. Aku juga mengabarkan bahwa mantanku sekarang dalam proses perceraian (aku dua hari lalu kepo akun sosial medianya).
Dan aku tertawa sendiri mengingat hal ganjil yang kulakukan semalam.

Ayam membalasnya. Zona waktuku lebih awal satu jam dari zona waktu Ayam. Dia membalasnya ketika masih cukup pagi di sana. Anehnya, it feels good. Aku menyadari bahwa ada perasaan excited di pikiranku ketika tahu bahwa membalas pesanku adalah salah satu hal yang dia lakukan di pagi hari. Tapi kemudian aku kembali ke kesadaran, it feels good but nothing’s special. Aku tetap melanjutkan aktivitasku karena kebetulan aku mengajar pagi dari jam pertama sampai jam ketiga. Lalu setelah itu aku melakukan persiapan untuk besok. Waktu makan siang aku membalas pesannya.

Satu hal yang menurut diriku sendiri lucu adalah aku tidak pernah mengetes seseorang. Jika memang aku pergi, diam, bukan berarti aku ingin dicari. Pergerakanku gampang sekali dibaca karena apa yang kulakukan, kukatakan, itu mencerminkan bagaiamana aku apa adanya.

Tapi aku suka mengetes diriku sendiri.

Beberapa waktu lalu aku juga pernah mengirim pesan sok akrab ketika kami sedang tidak akrab. Dia membalas dengan dingin. Lalu kemudian aku membawa topik itu kembali, ‘dia yang dingin.’ Aku tidak menyalahkannya juga. Aku yang mengehendaki untuk memutus silaturahmi dan tidak banyak bersinggungan dengannya. Oh, aku bukan wanita sabar. Tidak sesabar orang-orang yang menyukainya. Dia banyak disukai perempuan. Aku juga suka Ayam. Tapi aku tidak sesabar itu. Aku selalu mengutamakan diriku sendiri dan tidak pernah memberi segala-galaku untuk mendapatkan perhatian seseorang.

Dia membalas, “Sedang cukup ribet urusan kuliah.”
“Understood. Good luck then,” kataku di sore harinya setelah aku selesai terapi.

Dalam hatiku, I made it! Kesibukan Ayam, bagaimana reaksinya, aku merasa biasa saja. Tentu saja ketika dia excited, mungkin akan terasa menyenangkan. Tapi kupikir jikapun tidak, itu tidak mengurangi rasa keterlepasanku dengannya. Aku melekat dengannya cukup banyak di masa lalu. Bagaimana responnya sekarang, tidak banyak membuatku gusar. Aku pun mulai memunculkan skenario tertentu di kepalaku. Tapi aku menyadari itu hanya skenario saja. Apa yang terjadi saat ini, di depan mataku, itulah kenyataannya. Dan aku cukup kagum dengan diriku sendiri bisa menerima kenyataan sebagaimana adanya.

It’s sad to lost a friend. But this phase also have some reasons. Other than that, I can lose anyone but not myself.

Apapun yang terjadi saat ini adalah yang terbaik untukku.

Aku sangat bangga dengan diriku juga. Di masa lalu, 2021, di masa kami juga merenggang, aku menangis banyak. Entah apa yang kutangisi tetapi rasanya menyakitkan sekali. Aku memaafkan Ayam untuk hal-hal yang dia tidak tahu bahwa yang dia lakukan adalah menyakitiku. Tapi pun jika dia tahu dan masih tetap memilih untuk menyakitiku, aku tidak punya kontrol untuk itu. Selain itu, aku juga bertanggung jawab atas bagaimana orang lain memperlakukanku. Jika di masa lalu aku belum memiliki pengetahuan seperti sekarang ini, dan ternyata keputusanku menyakiti diriku sendiri, aku pun memaafkan diriku. Aku belajar. Bagaimana mungkin aku bisa menulis ini dengan penuh kedamaian jika aku tidak belajar? Apakah ini sesuatu yang merisaukan? Pasti. Karena menulis adalah salah satu caraku mengendurkan benang kusut yang ada di kepala, membersihkan sisa-sisa perasaan yang tidak nyaman.

Aku merisau dalam damai.
Penuh kesadaran.

Aku tahu aku masih memikirkan Ayam. Aku tahu bagian diriku masih ada yang sedikit berpaut dengannya. Tapi aku sadar bahwa memiliki itu semua juga tidak apa-apa. Aku menyaksikan bagaimana aku berprogres melepaskan kemelekatanku dengannya. Apapun yang kuusahakan, waktu-waktu yang berlalu dalam ketiadaanya, itu sangat bermakna. Karena tanpa itu semua, mungkin aku tidak bisa pada proses sedamai ini. Sedamai ini ketika mengingatnya, bertukar pesan dengannya.



Leave a comment