A weekend of a single lady 🌷
Tadinya aku ingin menulis ini di Twitter. Tapi karena kupikir aku ingin menulis agak panjang, jadi mari disimpan di sini saja. Siapa tahu menjadi memori yang menarik untuk dibaca di masa depan 😌
Aku pernah membaca entah di mana, seseorang menulis kurang lebih seperti ini, “Seseorang yang merasa cukup akan apa yang ada di dalam hidupnya saat ini adalah orang yang beruntung.”
Kupikir aku salah satu orang yang beruntung itu 🥰
Aku bangun pagi pukul 09.00 dengan perasaan lelah dan pusing. Aku ingat sekali semalam aku bermimpi aku meninggal. Dan dalam mimpiku itu, aku benar-benar merasakan kehampaan selama beberapa detik. Karena setelah itu, aku hidup lagi namun tidak dalam kondisi baik-baik saja. Aku harus pergi ke beberapa dokter untuk menjalani pemeriksaan dan operasi karena mati suri yang kualami itu. Dalam mimpiku itu, aku benar-benar lemah dan sakit. Bahkan untuk berjalan saja sulit. Aku juga merasa sesak napas sepanjang waktu. Jadi tidak heran jika aku bangun dalam keadaan kelelahan.
Karena lelah itu tadi, aku memutuskan untuk tidur lagi hingga pukul 11.00. Barulah ketika itu, aku merasa cukup segar.

Apa yang kulihat untuk pertama kali ketika membuka mata? Diriku sendiri. Semalam aku baru saja membuat video aku menggambar dan aku unggah di ig reels. Aku melihat-lihat lagi itu dan aku merasa senang sekali. Aku merasa senang menggambar dan aku merasa senang karena kupikir gambarku bagus. Itu gambar seorang wanita berambut pendek dan memakai topi. Biasanya, aku hanya membuat sketsa hitam putih. Tapi kali ini, aku memberi beberapa warna.
Aku kemudian memotret hasil gambarku semalam. Aku belum sempat mengambil foto karena semalam aku sudah sangat mengantuk. Setelah itu, aku mengunggahnya di ig story. Tiba-tiba aku ingin mengganti cover ig highlight jadi aku menuju ke Pinterest dan mencari beberapa gambar yang bagus. Aku menemukan gambar seorang anak yang sedang mengecat gambar hati berwarna biru. Aku memilih itu.

Mengumpulkan nyawa adalah salah satu hal favoritku setelah bangun tidur di akhir pekan. Aku seperti memiliki momen untuk diriku sendiri bersantai, melakukan apapun yang aku suka, tanpa diburu-buru sesuatu yang lainnya. Hingga pukul 13.00, barulah aku merasa agak lapar. Aku berpikir untuk membeli bibimbap (nasi campur korea), tapi kemudian rasa rindu pada masakanku sendiri lebih besar. Lalu aku memakai sunscreen dan pergi ke supermarket untuk berbelanja. Tidak banyak barang yang aku beli karena tujuanku hanya membeli tempe, paprika, jamur tiram, dan saus lada hitam. Tapi kemudian aku teringat minggu lalu aku memesan kari Jepang dan rasanya kurang pas di lidah. Jadi aku memutuskan untuk membeli bahan-bahan untuk membuat kari Jepang. Mungkin aku akan memasaknya besok atau beberapa hari kemudian. Yang jelas, aku sudah bisa membayangkan nikmatnya kari Jepang buatanku dimakan dengan ayam katsu.
Pulang dari supermarket, aku membali es kopi.


Lalu pertempuran memasak dimulai. Aku percaya diri untuk membuat tiga menu siang ini: tumis tauge jamur, tempe lada hitam, dan telur dadar. Dapur kecilku nampak penuh sesak dan berantakan tapi aku suka sekali. Aku juga hanya punya kompor satu tungku, itu membuatku butuh waktu lebih lama untuk memasak, tapi tidak apa-apa. Aku tidak sabar untuk memasak di dapur yang lebih luas namun tetap minimalis dan juga estetik itu.

Viola!!! Beginilah penampakan masakan-masakanku. Sangat pretty dan juga sangat tasty! Fenomenal! Aku tidak tahu, tapi seringnya semua masakanku memang selau nampak sangat appetising.



Tiga masakan sederhana dan aku menghabiskan waktu selama 90 menit untuk menyelesaikan itu semua. Kecepatan masakku kupikir belum bisa secepat itu karena memang aku sangat berhati-hati dalam memasak. Aku takut menggunakan api besar, pergerakan memasakku masih cukup lamban. Tapi itu juga bukan masalah yang berarti sebab aku bukan koki restoran. Aku hanya memasak untuk diriku sendiri, aku sedang tidak diburu-buru oleh apapun dan siapapun 😊
Proses yang panjang dan melelahkan untuk 20 menit mengunyah. Tapi aku pikir, itu bukan sekadar adegan mengunyah. Itu adalah proses bagaimana aku melayani diriku sendiri. Aku memberi makanan yang enak dan sehat. It’s act of love, I can say.
Semua itu membuatku merasa senang dan juga banyak bersyukur.
Aku bersyukur atas waktu yang Tuhan beri sehingga aku bisa memasak.
Aku bersyukur atas sumber daya sehingga aku bisa membeli bahan-bahan masakanku.
Aku bersyukur atas kemudahan dalam menjangkau segala hal yang kubutuhkan dalam membuat masakanku.
Aku bersyukur atas otakku yang cerdas dan tanganku yang terampil dalam meracik semua itu.
Dan tentu saja, semua itu tidak akan terjadi tanpa tubuhku yang sehat. Aku paling bersyukur banyak atas kesehatanku.

Segala hal melelahkan dan mengenyangkan itu tadi, ditutup sempurna dengan menikmati es kopi. Di depan pintu, sambil mengamati langit biru. Angin berdesir cukup kencang, membantu mengaburkan asap masakan yang masih terjebak di dalam kamar.
Tuhan, aku suka sekali hari ini. Terima kasih 🩵

Leave a comment