Obat

Aku tidak pernah menyangka bahwa tadi aku menenteng obat ini dengan perasaan yang riang sambil menggumam sendiri, “Pasukan-pasukan pelipur lara uhuuuyy.”
Karena menerima mereka menjadi bagian dalam hidupku, adalah tidak mudah.

Aku mulai mengonsumsi obat-obatan psikiatri sejak Agustus 2019. Apakah pada mulanya itu semua membuatku lebih baik? Tentu. Tapi sebelum membaik, segala obat-obatan itu malah membuatku merasa lebih terpuruk.

Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di kepalaku:
“Apakah aku seburuk ini?”
“Mengapa aku perlu minum obat?”
“Ah, aku hanya perlu semangat.”
“Ah, aku hanya perlu lebih capek untuk bisa tidur.”
“Ini hanya akal-akalan dokter saja memberiku obat, agar aku bergantung dengannya, dan dia punya pasien, jadi dia bisa terus bekerja dan dapat uang dari sana.”
“Bukankah obat ini malah membuat hati dan ginjalku lebih banyak bekerja?”
“Aku sudah minum ini satu dua minggu, mengapa rasanya masih sama saja?”
“Betul kan, obat ini hanya bualan.”

Segala pertanyaan itu, tidak hanya mencuat tanpa reaksi apapun. Tubuhku juga menolaknya. Setiap kali minum obat, rasanya aku mau muntah. Sering sampai tiga atau empat kali percobaan. Sering aku sambil menangis deras berderai air mata membenci diriku dan keadaanku. Sering aku membuangnya berserakan di lantai. Dan sering juga aku ingin meminum semuanya dalam sekali waktu.

Tapi aku bukan seorang yang pandai menyerah.

Puji Tuhan, teman baikku kala itu juga sering mengingatkanku untuk meminum obat. Dia pernah berucap, “Kalau untukku pribadi, aku malah semangat minum obat. Ibaratnya merasa bahwa obat-obat inilah yang membuatku sembuh, atau setidaknya membaik.”

Aku lupa kapan mulanya aku menerima diriku sendiri yang minum obat. Karena di masa lalu pun minum obatku berantakan. Kadang sampai sebulan aku tenggelam dalam pikiran dan perasaanku sendiri, menolak obat-obat itu, yang jelas-jelas terbukti secara ilmiah bisa membantuku. Tapi aku sudah memaafkan diriku sendiri yang telah berlaku sangat buruk pada diri sendiri di masa lalu.

Sekarang aku baru bisa merasakan apa yang dirasakan temanku dulu: semangat minum obat karena inilah yang membuatku membaik. Sejak musim dua ini, belum pernah sekalipun aku absen minum obat. Aku sudah pergi terapi lebih dari satu bulan. Semua lancar dan aman. Aku juga sangat senang dengan diriku sendiri yang penuh dedikasi merawat diri sendiri dengan sangat baik. Aku membaik.

Sampai dengan formulasi obat yang seperti sekarang ini juga perlu perjalanan yang cukup panjang. Dari sertraline dan aprazolam, lalu aprazolam diganti dengan lorazepam. Kemudian ditambah divalproex sodium. Kemudian ditambah racikan-racikan yang yang aku kurang begitu paham apa isinya dalam satu kapsul itu. Hingga saat ini, tertulis triheksifenidil, risperidon, dan merlopam di kwitansi obat racikan itu. Demikianlah nama-nama pasukan pelipur lara. Yang tanpanya, mungkin aku sudah berada di dunia ghaib. Karena pun aku pernah mencoba pergi ke sana, bahkan itu terjadi ketika aku telah bersama pasukan itu. Hari itu, pertengahan Oktober 2019.



Leave a comment