Setelah membaca lagi Perbandingan, aku mulai mencari-cari dari mana rasa marahku berasal ketika aku dibandingkan. Kupikir setiap orang punya hal-hal yang menyulust emosinya dan juga hal-hal yang tidak menyulut emosinya. Mengapa aku marah, tentu ada sebab yang aku tidak ketahui.
Mungkin salah satunya dari ibuku (?)
Aku punya ibu yang luar biasa dan hubunganku dengannya saat ini juga sangat baik.
Pernah aku melihat video di tiktok yang kurang lebih begini.
Sebagai wanita, aku merasa kasihan dengan ibuku. Tapi sebagai anak, aku merasa marah dengannya.
Aku bersyukur tidak melihat ibuku sebagai wanita atau sebagai anak. Aku melihatnya sebagai manusia biasa, sebagai jiwa yang juga sedang belajar. Dia tentu punya tantangannya sendiri. Mungkin aku juga salah satu tantangannya, aku tidak tahu. Mungkin jiwa kita memang telah semestinya bertemu di kehidupan ini sebagai ibu dan anak, untuk sama-sama belajar.
Kesadaran itulah yang mendamaikan hatiku.
Tapi di masa lalu, ibuku sering membandingkanku.
Ibuku sering membandingkanku dengan anak yang germar ke masjid. Ibuku sering membandingkanku dengan anak yang gemar membesihkan rumah. Bahkan jika hujan di pagi hari, ibuku sering mengolok-olokku, membandingkan dengan anak lain yang jarak sekolahnya lebih dekat.
Ibuku selalu melihatku sebagai anak yang kurang.
Aku tidak punya ingatan bahwa dia pernah menunjukkan rasa bangga terhadapku. Entah aku yang bagus di sekolah, entah aku yang lancar dalam membaca ayat suci, entah aku yang cenderung selalu penurut tidak pernah keluyuran, entah aku yang berjuang sedemikian keras dalam mengerjakan tugas sekolah. Bahkan di masa lalu, segala hal yang kulakukan masih terasa kurang di matanya. Aku menyapu kurang bersih, aku mencuci baju masih ada noda, dan piring yang kucuci masih licin berminyak.
Aku tidak pernah diapresiasi, aku selalu disalahkan.
Tapi ibuku juga tidak sepenuhnya keliaru. Aku tahu bahwa dia tidak tahu caranya mengapresiasi. Aku percaya dia juga tidak pernah diapresiasi oleh orang tuanya. Lalu siapa yang salah? Tidak ada. Ketidaktahuan tidak bisa disalahkan. Ibuku juga manusia biasa yang bisa keliru. Ibuku juga mengalami banyak hal yang membuat dia terluka. Karena dalam hal apresiasi aku sekarang lebih banyak tahu, aku bisa memahami bahwa dia tidak pernah mengapresiasiku di masa lalu.
Kita belajar dengan banyak cara. Kadang kita belajar dengan diberi tahu, diberi contoh yang baik, jadi kita bisa mengikuti. Tapi nyatanya banyak pelajaran hidup yang datang karena hal itu alpa di dalam kehidupan kita. Kita bisa belajar mencintai karena tahu rasanya dicintai. Kita juga bisa belajar mencintai karena tahu rasanya tidak dicintai. Kurang lebih seperti itu.
Seperti aku yang sekarang. Oh Tuhan! Aku sangat pandai dan terampil dalam mengapresiasi diriku. Malam panjang penghakiman yang kulakukan telah usai. Sekarang hanyalah kata-kata baik yang kuucapkan untukku.
Bahkan jika aku berlaku kurang, kubilang pada diriku sendiri, “Tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi lain kali.”

Leave a comment