Perbandingan

Aku menulis ini karena beberapa hari yang lalu ada seseorang yang membandingkan perjalanan hidupnya denganku ketika aku cerita tentang gangguan tidur. Hanya gangguan tidur, tidak merembet ke masalah akarnya. Dia bilang, “Tapi kalau dilihat-lihat lagi, aku juga punya masa lalu yang lebih susah dibandingkan kamu.”
Lalu aku memvalidasi perjalanan hidupnya, tentu saja tanpa mengecilkan apa yang sudah aku alami. Dalam benakku aku menggumam, “Tidak apa-apa, dia tidak tahu.”

Dari ‘tidak apa-apa’ itu, aku tersadar sesuatu: aku sudah tidak marah lagi jika ada orang yang membanding-bandingkan. Karena di masa lalu aku pernah marah jika seseorang membanding-bandingkan perjalanan hidup. Menganggap mereka picik karena tidak memiliki kesadaran bahwa perjalanan hidup seseorang berbeda. Sekarang hatiku sudah lebih luas lagi,

“tidak semua orang harus tahu tentang apa yang kuyakini baik.”

Tapi sebenarnya di kepalaku, akupun defensif. Aku hanya manusia biasa, yang jika ada suatu triger, memiliki reaksi. Hanya saja semua itu tidak membuatku reaktif. Ini bukan tentang aku yang menahan diri untuk menghindari konflik, bukan. Tapi aku sadar bahwa beradu nasib itu useless dan wasting time, tidak akan menyelesaikan apapun. Berdebat dengan seseorang yang memiliki pijakan berbeda itu bukan sesuatu yang berguna.

Di kepalaku, aku menggumam, “Tapi kamu tidak melihat wajah ayahmu yang biru dengan darah di sekujur tubuhnya. Kamu tidak melihat orang-orang panik dan menangis, menangisimu. Kamu tidak melihat jenazah ayahmu dimandikan. Kamu tidak melihat wajah pucat ayahmu ketika tali pocongnya dibuka untuk dihadapkan ke barat di liang kubur. Kamu tidak melihat kapas-kapas di lubang hidung dan lubang telinganya. Kamu tidak melihat tubuh ayahmu ditanam di dalam tanah. Kamu tidak punya pikiran untuk ikut masuk juga ke liang kubur ketika kamu berumur lima tahun.”

Dalam kesadaran dan keluasan hatiku untuk memahami sudut pandang orang lain, aku tetap memberikan ruang untuk merasa sedih dan kecewa ketika orang lain mengecilkan apa yang aku alami. Dan dari sana aku telah memberikan keadilan, setidaknya untuk diriku sendiri. Lagipula, berharap orang lain untuk memahami hanyalah keinginan ego semata. Aku merasa lebih baik jika mereka bisa memahamiku.

Padahal, orang lain tidak punya kewajiban untuk memahamiku. Kupikir aku sekarang sudah terbebas dari belenggu ego yang satu itu. Entah mereka memahami atau tidak memahami, tidak mengganggu kedamaianku.

Aku jadi teringat beberapa waktu lalu ada juga seseorang yang membandingkan tidak hanya perjalanan hidup, namun juga fisik. Mungkin ini juga hanya biasku semata dan aku overthinking sendiri dan pikiranku keliru.

Aku mesam-mesem sendiri sekarang jadinya karena segala memori di masa lalu kembali terbuka.
Aku membuat pilihan yang buruk di masa lalu sehingga melukai wanita yang berkata-kata di atas tadi. Dulu aku marah karena segala aspek hidupku dibawa-bawa. Namun, sekarang aku punya lebih banyak compassion dan “ya sudah tidak apa-apa”.

Aku berterima kasih dengan diriku sendiri di masa lalu dengan tidak reaktif membalas membandingkan. Tapi tentu aku punya dialog sendiri di kepalaku.

“Cantik natural adalah seperti memenangkan lotre genetis. Itu berkah dari Tuhan. Jika berkahmu adalah menang lotre genetis itu tadi, aku yang menurutmu kurang cantik ini mendapat berkah yang lain. Salah satunya aku bukan people pleasure. Aku dekat dengan orang yang juga pernah dekat denganmu selama lima tahun. Kamu mungkin menangis jika kamu tahu hal-hal apa saja yang sudah dia bicarakan tentangmu. Dia banyak bercerita tentang kamu yang “manut” dan cenderung menghindari konflik. Dia bercerita tentang ayahmu yang banyak mendominasi berbagai hal. Dia bercerita tentang ‘komunikasi satu arah’ yang sering terjadi. Tentu kamu punya banyak pertimbangan sendiri melakukan itu. Tapi, apakah kamu mempunyai kebebasan bersuara dan bergerak seperti apa yang aku punyai?”

Jika di gambar yang pertama aku sangat yakin bahwa tulisan itu ditujukan untukku. Di gambar yang kedua, aku tidak terlalu yakin, tapi aku tetap punya dialog sendiri di kepala.
“Bukan aku yang insecure dengan masalah pernikahan.

Kamu.

“Kamu yang di 2017-2018 sudah banyak risau ketika pergi ke kondangan, melihat orang di mall bergandengan tangan, melihat postingan anak teman-teman. Kamu.
“Aku di 2018 sedang menjalani hidup di Bali, sekolah lagi, setelah pulang dari Sulawesi. Kamu berasumsi aku insecure karena itulah yang sejatinya ada di dalam kepalamu.”

Segala dialog itu tadi tidak pernah aku keluarkan sampai ketika aku menulis ini. Cukup pilihan burukku di masa lalu yang melukainya, aku tidak ingin melukainya lebih banyak lagi. Ada akar yang tidak bisa aku tahu mengapa dia cenderung selalu mengalah untuk menghindari konflik, ada bagian hidupnya yang lain yang aku tidak tahu sehingga menjadikan menikah adalah tujuan mutlak dalam perjalanannya hidupnya saat ini.

Perbandingan hidup akan berpotensi menyakiti. Nampaknya memang menyakiti orang lain. Tapi untukku pribadi, diri sendirilah yang banyak tersakiti dari adegan membandingkan itu. Dan aku sangat bersyukur, aku bisa terlepas dari sumber rasa sakit ‘membandingkan’ itu.

Tuhan memberkatiku dengan hati yang lapang untuk menerima bahwa setiap perjalanan jiwa itu unik. Seperti sidik jari, tidak ada yang sama di antara segala milyar manusia di muka bumi ini.



One response to “Perbandingan”

  1. […] membaca lagi Perbandingan, aku mulai mencari-cari dari mana rasa marahku berasal ketika aku dibandingkan. Kupikir setiap […]

    Like

Leave a comment