(lagi)
Aku masuk ke ruang terapi dengan penuh percaya diri. Kuceritakan segala yang terjadi dengan singkat Februari 2022 – Januari 2024. Tapi entah dari mana datangnya, air mataku meleleh juga.
Dalam D, aku menuliskan segala pertarungan(?) Aku masih ingat perasaan-perasaan ketika menulis itu, bahkan kadang masih menangis juga membacanya. Tapi itu sudah tidak apa-apa sebenarnya. Segala yang kutulis di Setelah Saturnus juga betul adanya. Aku menjalani kehidupan terbaikku bahkan ketika aku menulis ini. Aku juga terkejut karena pada kenyataannya, aku bertemu Sp.Kj lagi. Sepertinya akan setiap minggu karena aku diminta datang minggu depan oleh dr. Sas.
Pertanyaan terbesarku: mengapa?
Dan dari mencari jawaban ‘mengapa’ itulah justru aku merasa sedih. Ada pikiran gagal dalam merawat diri ketika pertanyaan mengapa itu kuputar di kepala dan aku tidak menemukan jawabannya, yang mana pikiran itu juga keliru.
Aku mendapat sebuah peristiwa yang kurang menyenangkan ketika Juli 2023. Namun, aku merasa bahwa aku bisa mengelola itu semua dengan baik. Segala aktivitasku juga tidak ada gangguan sama sekali. Iya, aku bersedih, tapi itu pun tidak lama. Aku punya kesadaran yang baik, manajemen stres yang baik. Namun, sejak Juli, kualitas tidurku memang menurun. Puncaknya adalah Desember ketika aku sangat kesulitan untuk tidur kurang dari pukul dua pagi. Dari sanalah, aku mulai kurang berfungsi secara optimal di keseharianku. Aku merasa kelelahan sepanjang hari meskipun dalam sepanjang hari itu aku masih beraktivitas.
Tapi rasanya menyenangkan bertemu dr. Sas lagi, seperti bertemu pembimbing jiwaku. Aku tidak tahu pelajaran apalagi yang akan kudapatkan ke depan. Aku selama ini sudah merasa pintar sebenarnya (hahaha), tapi ternyata mungkin aku keliru jadi aku perlu sekolah lagi di ruang terapi.
Katanya, “Dalam keseharian kita, ada banyak hal yang tidak kita sadari masuk ke kepala kita. Bisa jadi itu hal baik, bisa jadi itu hal buruk. Otak kita ini hebat dan sangat canggih. Untuk efisiensi, dia menyimpan begitu saja hal-hal yang masuk itu tadi tanpa banyak difilter. Hal-hal itulah kemudian yang menumpuk seperti sampah dan mengganggu keseharian kita tanpa kita sadari.”
“Tapi saya salut sekali dengan kamu. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan ketika kamu merasa ada yang kurang beres di dalam dirimu. Saya juga bisa melihat aura yang berbeda, energi yang beda, tawa yang beda. Dulu kan murung sekali, suram sekali. Nampaknya kamu sudah belajar dari pertemuan-pertemuan kita yang lalu.”
(notes: dr. Sas tidak pernah menyebut ‘kamu’. Dia selalu menyebut namaku tapi aku tidak mau namaku muncul di sini, hehe)
“Ingat. Duduk diam lima menit yang nampaknya hanya diam tidak melakukan apa-apa, sejatinya itu adalah hal yang bisa kita lakukan untuk otak kita supaya dia memilah informasi mana yang bagus/tidak bagus untuk disimpan di dalam otak kita. Untuk saya pribadi, itu bahkan adalah sebuah kebutuhan seperti makan dan minum. Saya berharap, kamu bisa belajar untuk melakukan itu secara rutin lagi.”
Ada beberapa percakapan-percakapan kecil juga di antara kami. Aku bertanya, di mana wajah pasien-pasien lama. Dia menjawab mereka sama sepertiku, merasa membaik, lalu diizinkan untuk lepas terapi. Nanti beberapa waktu kemudian, datang lagi.
Kupikir ketika berbicara itu, dr. Sas hanya ingin membesarkan hatiku karena aku mengungkapkan betapa berat rasanya kembali terapi lagi setelah segala apa yang sudah aku lakukan.
Pelajarannya, banyak hal yang tidak bisa kukendalikan termasuk apa yang ada di dalam kepalaku. Aku hanya bisa menjaga diriku, merawat diriku sebaik yang kubisa (dan kupikir cukup keren) selama ini. Ada banyak hal yang aku tidak tahu juga, termasuk apa yang sebenarnya terjadi dalam dalam tubuhku. Aku sudah melakukan yang terbaik. Dan kembali ke ruangan dr. Sas juga salah satu upayaku yang terbaik juga.
Di Pertama, aku tidak yakin jika aku akan menulis banyak tentang diriku di sini. Tapi ternyata aku menulis lagi. Dan aku suka sekali menuliskan percakapan-percakapan dengan dr. Sas di ruang terapi.

Leave a comment