Pertemuan

27 April 2022

Aku tidak menyangka dia akan datang sore ini. Dia menyapaku dan berkata aku gemukan. Di belakangnya ada seorang wanita yang lebih gemuk dariku, menyimpan bayinya di dalam perutnya.

Aku pernah mengkhayal skenario ini. Menjadi wanita yg dia bawa ke sebuah acara. Tapi tentu saja itu tidak pernah terjadi. Jalan kami tidak pernah jadi seperti itu.

Ada ‘memory attack’ yang tiba-tiba muncul di kepalaku tentang ketika aku dan dia di masa lalu.

“Jangan bersedih, aku datang untuk membuatmu bahagia.” Demikian yg sering dia katakan dulu ketika aku banyak mengeluhkan nasibku. Tapi memang, dia yang membuka jalan bahagiaku meskipun bahagia itu tidak serta merta datang di depan pintu. Jika bukan karena dia, aku bukanlah aku yang seperti ini.

Kusapa wanitanya dengan kepala tegak dan penuh senyum. Sekuat tenaga aku menampilkan diri sebagai seorang yang percaya diri dan tidak kikuk.

“Mudik nanti lebaran?

“Sudah hamil berapa minggu?

“Wah, tinggal menunggu jam ya. Semoga lancar nanti lahirannya dan semua sehat-sehat.”

Kataku dengan senyum tulus yang tidak pernah kubuat-buat. Aku, dari lubuk hati yang terdalam, berbahagia dengan kehidupan dia sekarang. Hanya saja aku juga tidak bisa mengelak harapan yang dulu pernah kupunya tentang bersamanya.

Dalam duduk dan di sela-sela makanku aku bertanya-tanya dalam diri, bagaimana dia menceritakanku pada wanitanya. Kupikir dia seorang yg jujur untuk bercerita bahwa aku dulu adalah wanita yang pernah ada di hidupnya (jika dianggap).

Apapun keputusanku di masa lalu adalah yang terbaik dengan segala sumber daya yang aku tahui. Yang jelas, aku tidak pernah memintanya untuk tetap di sisiku, tidak pernah mengemis kasih sayangnya meskipun aku ingin itu semua. Aku selalu punya kebesaran hati membiarkan seorang yang ingin pergi dari kehidupanku. Atau mungkin memang aku tidak pernah “ada” dalam kehidupannya, aku juga punya keberterimaan untuk itu.



Leave a comment