26 Desember 2022
Yang mati di 2021
Itu bermula dari kresek sampah yang kujinjing. Lalu tiba-tiba kau menyambarnya dari belakang tanpa berkata apa, membawanya. Sedangkan pikirku membawa asumsi, bahwa kau tidak menghendaki aku kerepotan membawa sampah-sampah bekas makanan itu.
Lalu beberapa bulan kemudian, aku menemukan itu keliru.
Bagaimana mungkin itu keliru? Asumsiku didukung bukti-bukti kita banyak berbincang dan tertawa. “Kalian nampak asyik sendiri,” kata salah seorang pengamat.
Bagian terbaiknya hanyalah milik kita. Mereka tidak boleh tahu. Lalu apa yang terjadi setelah bagian terbaik? Pahit.
Aku telah kehabisan sumpah serapah. Menyumpahimu, menyumpahinya, menyumpahi semuanya. Tapi anehnya aku tidak pernah lelah bersumpah. Hingga saat ini aku punya hobi itu: mengutukimu.
Beberapa waktu kemudian, kita memudar. Aku memudar dari hidupmu. Tapi kamu seperti noda darah menstruasi di celana dalam. Bandel dan menghitam. Kamu selalu ada.
Aku banyak merugi. Dan belum banyak belajar.
Seperti memudarnya mendung-mendung di langit. Dalam beberapa waktu, mereka akan kembali. Kita kembali.
Lalu kau menghujaniku dengan bermacam-macam perasaan yang sulit kuurai. Aku menari-nari penuh sukacita. Lalu meringkuk bagai bayi medekap duka lara. Tapi kamu tak pernah sudi mengobati.
Anehnya, kita malah jadi banyak bicara. Aku lupa lukaku karena kita banyak bicara.
Sekian banyak waktu berlalu, kupikir aku sudah jadi bermakna. Seperti dejavu, aku kembali jatuh di lubang keliru. Dalam pikiranmu, aku bukan bunga yang elok yang banyak menarik mata. Hanya bunga liar kecil di yang tak banyak dilihat. Tapi bukan berarti tidak bermakna. Dan kita telah banyak mengembara dalam kata, bukan? Menjelajah masa dan dunia. Kupikir aku cukup bermakna.
Tapi kamu lebih suka yg elok-elok. Aku jadi marah dan tak mawas diri. Kita jadi berhenti mengembara dalam kata. Kamu mulai mengembara bersama bunga yang elok. Sementara aku bertapa di dalam gua.
Kupikir, kita sudah berakhir.
Kupikir, kita harus berakhir.

Leave a comment