Catatan rendah diri II

6 Maret 2022

Aku masih menyayangimu, tidak ada yang berubah. Aku bahagia jika kau senantiasa ada, itu pula tidak berubah.

Tapi kali ini, lukaku sedang ingin banyak didengar. Aku dijerat masa lalu, seperti yang sudah-sudah. Aku tidak tahu, karena pada nyatanya kamu juga kembali, berhasil beranjak dari semua. Dari kesalahanku, dari kecerobohanku.

Lalu mengapa? Apa yang sebegitu menyakitkan?

Mungkin karena aku merasa spesial. Itu pula yang sering kau sanjungkan, aku spesial. Tapi nyatanya aku kalah dengan kepopuleran, kecantikan, dan uang. Itu menyakitkan.

Adakah aku merasa lebih tinggi daripada semua kesementaraan itu? Iya, pastinya. Jika tidak, tidak mungkin juga aku begitu sakit.

Dari sana aku mulai menanyai kebermaknaan diriku lagi. Aku jadi melihat dan mengkritisi diri, andai tubuhku tidak seperti ini. Andai aku sedikit agak tinggi, dengan hidung lebih mancung, bentuk gigi lebih rapi, tanpa bekas luka di siku dan kaki, dan tentu saja payudara 36B, mungkin kau akan bangga memilikiku. Atau andai aku punya lebih banyak materi dan bisa memberimu hadiah fancy.

Pikiran-pikiran itu, sangat menyakitkan. Dan itu tidak pernah berhenti berputar-putar di dalam kepalaku. Aku merasa sedih atas apa yang ada di luar kehendakku.

Lalu kamu kembali, melepaskan kebanggaan dan kesenanganmu. Kembali, meninggalkan segala yang kamu pilih di masa lalu. Kembali pada seorang yang bisa kamu ajak bicara, yang bisa mendengarkanmu. Itu juga menyakitkan.

Mengapa pada saat sepi, pada saat tak ada yang bisa menyelami tutur katamu, kamu mencariku?

Aku terluka cukup dalam.



Leave a comment