10 Oktober 2021
Aku sedang duduk dengan sebuah novel di kedua tanganku: Eleven Minutes, Paulo Coelho. Aku berhenti sejenak karena musik di telingaku sangat bagus, Arcadia. Lalu aku tersesat dalam pandangan di depanku. Ombak dan orang-orang. Lalu aku menulis ini, untuk kuingat di masa mendatang. Betapa aku merasa bagaimana momen mengalir saat ini, di sini. Sebuah harta karun yang kucari setiap hari, kudapat lebih sering daripada kemarin.
Aku mulai dari bapak-bapak di arah jam 10, tiga meter dariku duduk. Dia diam, mengamati orang-orang juga, sama sepertiku. Tepat di hadapanku sebuah keluarga: bapak, ibu, dan anak mungkin tiga tahun. Mereka sibuk dengan kegiatan kekeluargaannya. Tiga meter tepat di samping kananku seorang bapak sedang menunggui tikar piknik keluarga. Mungkin anak dan istrinya sedang bermain ombak. Di arah jam 8, dua meter, seorang laki-laki, mungkin umurnya dua puluh lima, duduk sendiri dan sibuk dengan handphonenya. Baru saja, suami dan istri berjalan bergandengan di depanku. Ada sekelompok laki-laki muda bermain bola, banyak anak kecil bermain pasir dan ombak, empat gadis berfoto, penjual lumpia, dan juga anjing-anjing bahagia diajak jalan-jalan oleh tuannya.
Oh, ini akan panjang sekali jika aku menuliskan semuanya. Dari kejauhan tampak patung Garuda Wisku Kencana dan pesawat yang akan segera mendarat. Kupikir delapan puluh sembilan persen populasi di pantai ini sedang berhati riang. Aku banyak mendengar tawa dan melihat senyuman.
Sebentar lagi matahari terbenam. Tiga lagu telah berlalu di pemutar musik yang kudengar. Aku menulis sambil mengamati. Melihat bagaimana sekitarku bergerak, merasa momen yang bergulir. Aku tidak sedang terlalu bahagia, tidak pula berduka. Aku merasa damai.
Pantai Petitenget
10 Oktober 2021

Leave a comment