Sedikit tentang masa lalu I

10 April 2020

Ini adalah hal terbesar bagiku yang pernah kubagikan pada banyak orang. Aku juga belum tahu apa tujuanku menulis ini. Aku hanya merasa aku ingin berbagi. Ini adalah masa lalu yang amat sangat aku hindari untuk kubicarakan sebelumnya. Tapi kemudian aku berani menceritakannya adalah sesuatu yang menurutku luar biasa.

Sebelum aku melanjutkan, fokus ceritaku adalah bukan tentang masa lalu yang kelam. Tapi tentang pelajaran dan penerimaan yang aku dapatkan dari segala yang terjadi di masa lalu.

28 November 1998, ayahku meninggal. Dia dibunuh dengan sebilah golok menancap di dada hingga menembus punggungnya dan juga cekikan di lehernya. Kematiannya menyisakan banyak pekerjaan untuk diriku, yang sekarang pun aku masih berjuang untuk menyelesaikannya.

Ketika itu aku belum bisa menjabarkan bagaimana perasaanku. Aku bahkan tidak pernah merasa kehilangan sampai usiaku belasan tahun. Sejauh yang kuingat, aku juga tidak pernah merasa bagaimana-bagaimana terhadap pembunuhnya. Marah, benci, dendam, mungkin ada sedikit. Tapi aku tidak tahu.

“Pembunuh itu biadab, pembunuh itu berdosa, pembunuh keji yang tega menghabisi nyawa seorang suami dan seorang bapak dari dua anak perempuan yang masih kecil-kecil.”

Baik, aku akan berbagi sedikit pemikiranku tentang apa yang terjadi dalam kehidupanku di masa lalu. Aku akan mencoba melihat lebih luas dari sekadar caci maki.

Pertama, aku berduka. Aku tidak berduka sendiri karena abah adalah juga ayah dari kakakku, suami dari emakku, anak dari kakek nenekku, kakak dari paman dan bibiku, serta teman dan sahabat dari orang-orang yang dekat dengannya. Satu lagi, dia juga guru dari murid-muridnya.

Kedua, aku tidak tahu apa yang telah ayahku lakukan kepada orang yang mencelakainya. Ada beberapa cerita penyebab yang tidak bisa kucerna dengan baik, tidak bisa kujelaskan dengan baik. Apapun itu, mungkin ayahku telah melakukan hal yang buruk sehingga orang itu memutuskan untuk menghabisi nyawanya. Menghabisi nyawa seseorang bukan hal yang terpuji. Tapi, perasaan marah dan benci yang si pembunuh rasakan adalah nyata.

Ketiga, mungkin si pembunuh mempunyai pilihan untuk melakukan pembunuhan atau tidak melakukannya. Mungkin saja membunuh itu ia lakukan untuk memuaskan amarahnya. Tapi juga banyak kemungkinan lain. Bisa jadi, dia dihadapkan pada pilihan untuk membunuh ayahku untuk menyelamatkan keluarganya. Bisa jadi dia juga tidak ingin membunuh, bisa jadi ia memang terpaksa harus membunuh.

Aku tidak pernah tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi. Aku tidak tahu apa yang telah ayahku lakukan. Aku tidak tahu bagaimana kondisi si pembunuh saat itu.

Aku percaya semesta memiliki neraca hitungan yang sangat sempurna. Jika hendak percaya pada reinkarnasi, mungkin di kehidupan sebelumnya ayahku pernah melakukan kesalahan dan inilah cara untuk membayar karmanya. Jikapun memang ayahku seorang yang baik-baik, ini akan menjadi karma buruk bagi mereka yang membunuhnya. Semesta tidak pernah tidak adil. Lalu, jika hendak percaya pada konsep dosa dan pahala, biarlah juga Tuhan yang mengurusnya.

Aku memaafkan ayahku atas apa yang telah ia lakukan sehingga ia menjadi kehilangan nyawanya. Dalam kesadaran jiwaku yang seutuhnya, tidak ada yang kusesalkan atas apa yang terjadi di masa lalu. Setiap duka dan rasa sakit itu adalah untukku belajar.

Aku memaafkan mereka yang membunuh ayahku. Meskipun aku tidak membenarkan apa yang mereka lakukan, meskipun aku tidak suka terhadap apa yang mereka perbuat, sekali lagi aku tidak pernah tahu bagaimana perasaannya, bagaimana kondisinya, dan apa yang mereka alami. Yang kupercaya, mereka juga jiwa-jiwa yang memiliki perjalanan dan pelajarannya sendiri.

Aku memaafkan. Tapi perihal melepaskan dan meletakkan masa lalu pada tempatnya, aku masih belajar. Karena aku juga tidak bisa mengabaikan seorang anak kecil di dalam diriku yang terluka sedimikan dalam karena kehilangan.

Apa yang ingin aku sampaikan adalah jangan cepat menghakimi atau bahkan jika mungkin, berhentilah menghakimi. Tentang apapun, pada siapapun. Kebencian, kemarahan, tidak akan menyelesaikan apa-apa. Segala persaan itu manusiawi dan kita boleh merasakannya karena dalam porsi tertentu perasaan itu juga berguna. Tapi mencoba memahami apa yang terjadi tanpa menghakimi berdasarkan pemikiran dan kebenaran pribadi, akan lebih mendamaikan diri.

Aku juga masih belajar dan akan terus belajar.



Leave a comment