28 September 2019
Aku berharap aku bisa memilih untuk bahagia. Aku berharap dengan meditasi, menggambar, atau berjalan di pantai, perasaan-perasaan baik itu bisa bertahan lama. Tapi seketika setelah segala itu berlalu, aku merasakan kekosongan. Lalu kekosongan itu menuntunku ke dalam pikiran, “Apa poinnya? Apa pentingnya? Bagaimana jika nanti di masa depan aku tetap seperti ini?” Lalu aku mulai menangis lagi.
Aku selalu mencoba memahami diriku bahwa memang ada yang salah di kepalaku. Bahwa otakku gagal mentransmisi hormon-hormon yang membuatku bahagia. Tapi nyatanya tidak semudah itu. Beberapa kali aku bisa menerima, beberapa kali juga aku takut dengan diriku sendiri. Aku takut jika nantinya aku tidak bisa sembuh. Aku takut jika nantinya hidupku selalu diliputi pilu.
Aku berharap orang-orang di sekitarku memahami.
Aku memang keliru berekspektasi pada mereka untuk memahami bahwa sakit mental ini sama halnya dengan patah kaki. Bahwa memang ada yang rusak dan perlu diperbaiki. Tapi, bagaimana mungkin aku berekspektasi pada mereka jika akupun gagal memenuhi ekspektasiku sendiri. Aku berulang kali gagal dalam penerimaan diri yang mana itu adalah kunci. Aku beberapa kali mengelak, menganggap diriku lebay, dan manja.
Aku ingin sembuh. Aku ingin tidak sedih lagi.

Leave a comment