Juni 2019
Apakah kita berhak menghakimi cara hidup seseorang yang tidak sama dengan cara yang kita pakai?
Apakah kita berhak menghakimi kesusahan dan kemalangan seseorang hanya karena menurut pandangan kita apa yang ia alami belum sesulit apa yang kita rasakan?
Apakah kita berhak menghakimi seseorang hanya karena dosa yang ia lakukan berbeda dengan kita?
Kita lahir dan dibesarkan dalam lingkup yang berbeda, hidup dan berkembang dalam pengalaman yang berbeda.
Jadi, bagaimana mungkin kita berhak menghakimi dan memaharahi seorang anak kecil yang terbata-bata membaca sementara ia masih belajar?
Kita semua sedang belajar, masih belajar, dan akan terus belajar. Dan apa yang kita pelajari, bagaimana cara kita belajar, tidak akan pernah sama.
Lalu, mengapa harus menghakimi?

Leave a comment