Lentera I

November 2018

PD
Momen terbaik tidak pernah direncanakan. Iya. Demikian benar adanya.
Aku selalu menerka-nerka tentang apa yang sekiranya akan terjadi. Hidup di Bali, bertemu teman-teman baru yang seprofesi, bertemu orang-orang Bali.
Tapi aku tidak pernah menerka bahwa dirimu akan ada mengambil bagian dari cerita di tanah dewata.
Bisa dibilang aku yang bodoh, bisa dibilang kamu yang magis. Atau mungkin keduanya benar. Betapa dirimu adalah seseorang yang baru, memberi pengalaman yang benar-benar baru. Secara fisik, iya, secara emosi, lebih dari sekadar iya. Untukmu, denganmu, karenamu, aku harus sekuat tenaga membekukan hatiku, mengokohkan dinding-dinding hatiku.
Pada satu momen, ketika suara ombak di pantai yang aku tidak tahu namanya membawaku pada satu kesadaran betapa diriku lemah terhadapmu dan juga betapa diriku kuat menghadapi segala yang terjadi bersama dirimu.

Berkali kamu berkata bahwa hatimu tiada akan pernah kau jatuhkan untukku. Aku tidak sedih, aku tidak kecewa, karena sedari awal bukan demikian kita bermula. Namun ada rasa pasrah, rasa menerima, rasa layu. Aku bukan peminta-minta apalagi perkara rasa. Sedari awal aku tidak menerka tentang perjumpaan denganmu. Dan hingga saat ini, aku juga tidak ingin menerka keberlanjutan cerita denganmu. Hiduplah saat ini, katamu. Sedang aku tahu kamu punya lusinan rencana hidup. Namun, apa yang kau kata, itulah yang aku terima.

Aku tidak ingin menerka, tidak pula hendak berharap. Apa yang ada, apa yang terasa, biarlah berada, biarlah merasa. Masa nanti, untuk perkara-perkara di luar genggam tanganmu, biarlah tangan semesta yang menanganinya.



Leave a comment